Sabtu, 17 Nov 2018
radarkudus
icon featured
Features
Ponpes Al-Mawaddah, Peraih Santri Of The Year

Nyantri di Pesantren Tidak Boleh Menerima Kiriman dari Orang Tua

Rabu, 31 Oct 2018 19:19 | editor : Ali Mustofa

RAMAI: Kondisi toko di Pesantren Entrepreneur Al-Mawaddah yang dikelola santri.

RAMAI: Kondisi toko di Pesantren Entrepreneur Al-Mawaddah yang dikelola santri. (PESANTREN AL-MAWADDAH FOR RADAR KUDUS)

Bagi santri yang sudah diterima di Pesantren Entrepreneur Al-Mawaddah tak diperbolehkan menerima kiriman uang saku dari orang tua. Itulah komitmen yang diterapkan kepada santri pondok pesantren yang ada di RT 6/RW 1, Desa Honggosoco, Jekulo, Kudus, itu. Ponpes ini pun, kini memperoleh penghargaan Santri Of The Year 2018 untuk kategori pesantren entrepreneur.

JAMAL ABDUN NASHR, Kudus

DI pesantren asuhan KH Sofiyan Hadi Lc ini, santri dilatih untuk menjadi entrepreneur melalui sejumlah badan usaha yang dimiliki pesantren. Atas keseriusannya mendidik santri menjadi pengusaha itu, pesantren ini memperoleh penghargaan Santri Of The Year 2018 untuk kategori pesantren entrepreneur. Penghargaan itu diterima dari Islam Nusantara Center di UIN Sunan Ampel Surabaya.

”Ada tiga nominator untuk kategori pesantren entrepreneur. Selain kami (Pesantren Entrepreneur Al-Mawaddah, Red) ada Pesantren Kaliopak Jogjakarta dan Pesantren Mukmin Mandiri Sidoarjo. Pemilihannya berdasarkan masukan dari masyarakat,” sebutnya.    

Alumus Universitas Al-Azhar Mesir itu, mengungkapkan, konsep pengajaran di pesantrennya ini mengadopsi semangat dari Sunan Kudus. Gusjigang. Hal itu diterapkan di pesantrennya dengan mengajarkan berdagang kepada para santri. ”Oleh pesantren diaktualisaikan istilah gusjiang menjadi spiritual, leadership, dan entrepreneur,” ungkapnya.

Santri yang tinggal di pesantren ini, merupakan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi yang ada di Kabupaten Kudus dan sekitarnya. Mereka dipersilakan mengikuti usaha yang ada di pesantren ini sesuai minat dan hobi santri. ”Dengan itu santri setiap bulan mendapatkan uang. Sejak menjadi santri, mereka sudah mandiri. Tak hanya membiayai dirinya sendiri sekaligus, namun juga punya tabungan,” tuturnya.

Dari aktivitas usaha yang diikuti di pesantren ini, setiap bulannya seorang santri dapat memperoleh penghasilan bulanan. Besaran penghasilan bulanan tergantung kinerja santri. ”Penghasilan santri paling tinggi ada yang mencapai Rp 5-6 juta sebulan,” bebernya.

Di antara usaha yang dimiliki pesantren yang telah berdiri sejak Agustus 2008 ini, mengelola lahan tebu yang bekerja sama dengan lima perusahaan gula, mengelola lahan singkong untuk produksi PT Indofood, biro perjalanan, biro umroh, eduwisata, toko, pertamini, kedai minuman, kebun buah naga, dan jembatan timbang. ”Dengan adanya eduwisata. Sejak lima tahun terakhir ini pesantren selalu ramai kunjungan,” katanya.

Tak hanya fokus mengajari santri dalam dunia usaha. Materi agama tetap menjadi fokus dalam pesantren ini. Setiap hari santri diwajibkan untuk bangun sebelum pukul 03.00. Santri langsung memulai hari dengan salat malam berjamaah, membaca Asmaul Husna dan dilanjutkan mengaji setelah Subuh. Kegiatan mengaji juga menjadi rutinitas selepas Ashar dan Maghrib.

Saat ini, 50 santri tercatat mondok di pesantren ini. Terdiri dari 35 santri putri dan sisanya putra. Mereka merupakan mahasiswa dari Universitas Muria Kudus (UMK), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Pati, dan lainnya.

Sebelumnya, sejumlah penghargaan juga pernah diraih pesantren ini. Di antaranya Adhikarya Pangan Nusantara dari Kementerian Pertanian dan Anugerah Kalpataru.

Nur Maftuhatul Faizah, salah seorang santri di pesantren ini, mengatakan, salah satu kunci utama menjadi santri di pesantren ini adalah komitmen. Ia yang mengaku kini tidak lagi membebani orang tua untuk biaya pendidikannya. Harus pandai mengatur waktu untuk kuliah, mengaji, belajar, dan usaha. ”Di sini memang cocok untuk mahasiswa. Kami di sini kuliah sambil berusaha sendiri. Jadi harus pandai membagi waktu,” katanya.

Mahasiswi sementer III STAI Pati ini, menyebutkan, jika tidak memiliki jam kuliah ia bertugas mengurus usaha milik pesantren. Ia juga bertugas menjadi tour leader ketiga ada kunjungan di pesantrennya. ”Kuliah kan tidak sehari full. Termasuk untuk wahana flying fox dan outbond juga dipandu oleh santri,” ucap mahasiswi Fakultas Tarbiyah ini.

Selepas lulus dari kuliah, ia berkomitmen akan memanfaatkan ilmu yang didapat dipesantren dengan menjadi pengusaha. ”Kalau bisa guru, tapi juga punya usaha. Di sini kan sudah diajarkan berbagai usaha,” imbuhnya.

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia