Sabtu, 17 Nov 2018
radarkudus
icon featured
Cuitan

Kepingin Ikut Bakar-Bakar. Bakar Semangat Muda Kamu

Senin, 29 Oct 2018 18:42 | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

Bukanlah pemuda itu yang mengunggulkan bapaknya. Tetapi, mereka yang berani mengatakan inilah saya.

Beberapa waktu belakangan ini ada satu kata yang sangat ngetrend. Bakar. Majemuknya bakar-bakar. Nyaris setiap saat kata itu muncul di media sosial. Entah Whatsapp, Twitter, Facebook, atau yang lain.

Saya suka mengamati pernyataan-pernyataan yang menggunakan kata itu. Banyak yang membuat bibir tersenyum. Ada yang berstatus begini: Siap meluncur ke Garut, nggoleki sing mbakar, bakar sate. Ada juga ini: Mau bakar-bakar ah. Bukan bakar bendera. Tapi bakar lemak. Saya pun ikut-ikutan berstatus: Kepingin ikut bakar-bakar. Bakar semangat muda kamu.

Semua status, joke, pernyataan, dan tanggapan yang mengunakan kata bakar (bakar-bakar) bermula dari kasus pembakaran bendera di Garut. Kasusnya terus aktual dan ber-magnitude kuat, karena menyangkut oraganisasi besar kepemudaan. Kebetulan di bulan ini ada dua peringatan besar juga. Hari Santri Nasional dan Sumpah Pemuda. Kasus Garut berlawanan dengan semangat keduanya.

Di daerah saya kemarin kedua momen itu menyatu dalam acara besar istighotsah kubro. Suatu kegiatan ritual keagamaan yang bernuansa NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Ratusan ribu orang berjejal di Gelora Delta Sidoarjo, tempat acara. Sebagian besar adalah generasi muda. Kebetulan saya pulang kampung. Rasanya miris melihat kekuatan yang luar biasa.

Istighotsah itu sekaligus memadukan Hari Santri Nasional dan Sumpah Pemuda. Didahului kirab yang dilepas oleh Presiden Joko Widodo, sejumlah menteri, gubernur, bupati, dan pejabat lain. Mereka mengenakan sarung dan peci.

Di berbagai daerah juga ada kegiatan serupa yang melibatkan massa besar. Di Kudus belasan ribu orang mengikuti parade santri, persis di hari Sumpah Pemuda kemarin. Di Semarang dilakukan long march dari Balai Kota hingga bundaran Tugu Muda. Mereka unjuk kebolehan dengan mempertontonkan berbagai macam tarian budaya lintas agama.

Wali Kota Hendar Pribadi ambil bagian dengan berdiskusi bersama sejumlah tokoh. Di tempat lain, budayawan nyentrik Sudjiwo Tedjo membakar semangat ratusan mahasiswa Universitas PGRI Semarang.

Saya tidak mengikuti semua kegitan itu. Cukup memperhatikan dari rumah. Meski demikian saya bisa merasakan, betapa luar biasanya kekuatan pemuda yang dilatarbelakangi idealisme keagamaan dan nasionalisme kebangsaan. Kecil sekali kemungkinan NKRI akan runtuh. Dasarnya sangat kuat. Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Indonesia.

Sehari kemarin pun bakar-bakar tak lagi muncul di jagad media sosial. Yang ada adalah membakar semangat pemuda. Misalnya, Yang muda yang berkarya. Ada juga, Aku hanya pemuda biasa yang bekerja untuk Indonesia. Kutipan-kutipan dari Bung Karno pun berseliweran: Jangan tanyakan apa yang bangsa ini berikan kepada Anda. Tapi tanyakan apa yang sudah Anda berikan kepada negara.

Saya termasuk orang yang amat percaya pada anak muda. Itu tercermin di dua perusahaan yang saya pimpin. Radar Semarang dan Radar Kudus. Semua manajernya masih berusia muda. Pemimpin Redaksi Radar Semarang Arif Riyanto masih 42 tahun. Malah pemimpin Redaksi Radar Kudus Zainal Abidin baru berusia 32 tahun. Lebih muda dibanding usia kewartawanan saya yang sudah 33 tahun. Saya sering kepontal-pontal mengikuti semangatnya.

Banyak perusahaan yang telah menghargai anak muda. Anak saya (maaf bukan ingin menyombongkan diri) termasuk yang dipercaya di perusahaanya. Betapa tidak? Dia masuk di perusahaan itu sebelum diwisuda. Dua minggu kemudian diserahi memimpin proyek. Dua minggu lagi diminta menjadi wakil kepala workshop. Dan, sebelum gaji keduanya keluar dia diminta menjadi asisten direktur.

”Repot. Banyak anak buah saya yang sudah jauh lebih senior. Mereka mbeler (bandel),’’ katanya suatu saat kepada saya. ”Itulah tantangannya. Bagaimana membawa orang-orang tua itu  bersemangat,” jawab saya sekenanya. Banyak orang tua yang lantas menjadi tidak produktif karena merasa lebih senior, lebih pintar, lebih berpengalaman, dan lebih mapan. Mereka lantas tidak mau dikritik dan menolak perubahan.

Saya membayangkan kalau semangat tersebut membakar hati setiap pemuda Indonesia. Bukan isapan jempol syubbanul yaum rijalul ghod (pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan). Kelak Indonesia akan betul-betul menjadi bangsa yang kuat. Bangsa yang pemudanya bukan lagi menonjolkan bapaknya. Tetapi bangsa yang pemudanya berani mengatakan inilah saya. Bangsa yang tidak lagi membanggakan pendahulunya. Tetapi, bangsa yang bisa memperlihatkan jati dirinya.

Selamat Hari Sumpah Pemuda. (hq@jawapos.co.id)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia