Rabu, 19 Dec 2018
radarkudus
icon featured
Rembang

Ternyata Ini Alasan Pemindahan Pasar Kota Rembang Tak Jelas

28 Oktober 2018, 22: 17: 40 WIB | editor : Ali Mustofa

POLEMIK: Kondisi Pasar Kota Rembang belum lama ini. Pasar belum jelas apakah akan dipindah atau tidak.

POLEMIK: Kondisi Pasar Kota Rembang belum lama ini. Pasar belum jelas apakah akan dipindah atau tidak. (SAIFUL ANWAR/RADAR KUDUS)

REMBANG – Rencana pemindahan Pasar Kota Rembang ke eks Pasar Hewan hingga kemarin belum jelas. Meski telah dilakukan kajian panjang sejak 2016 oleh pemkab, nyatanya pemindahan pasar masih menuai prokontra.

Para pedagang yang tergabung dalam IP2R (Ikatan Pedagang Pasar Rembang) beberapa waktu lalu berhasil mengumpulkan sekitar 1200 tanda tangan pedagang yang menyatakan menolak pindah. Tanda tangan tersebut kemudian diserahkan kepada DPRD setempat dalam audiensi. Sejumlah fraksi DPRD kemudian menyetujui tuntutan para pedagang yakni menolak pindah.

Pihak pemkab kemudian kembali mengundang para pedagang untuk audiensi. Namun mereka memilih tak hadir. Sebab, para pedagang menyebut sudah memasrahkan aspirasi mereka kepada DPRD pada audiensi tersebut.

Belakangan, Kepala Desa Sumberejo yang merasa tak diikutkan oleh pedagang penolak pindah pasar memiliki sikap berbeda. Pihaknya bahkan berencana menggalang tanda tangandari warga desa dengan target 20 ribu untuk menandingi apa yang telah dilakukan para pedagang. Meski, hingga kemarin masih dalam tahap pengkoordiniran.

Kabag Humas Setda Rembang, Kukuh Purwasana mengungkapkan saat ini pihak pemkab masih melakukan komunikasi dengan sejumlah pihak sebelum memutuskan perpindahan pasar. Sehingga, keputusan yang diambil nantinya benar-benar yang terbaik.

”Prinsipnya, kami masih akan melakukan komunikasi lebih lanjut kepada semua pihak. Butuh waktu untuk komunikasi dengan pihak-pihak yang terkait dengan pemindasan pasar itu,” kata Kukuh.

Terhadap pihak kontra pemindahan pasar, sebenarnya pihaknya telah melakukan kajian yang cukup panjang dengan studi kelayakan pembangunan pasar sejak 2016 lalu. Bahkan, pihaknya juga telah menggandeng universitas terkemuka di Jateng, Undip Semarang. ”Ketika itu, sebanyak 25-30 persen tidak setuju dipindah. Sedangkan 30 persen ngikut saja. Sisanya mengikuti apa pun kebijakan pemkab,” paparnya.

(ks/ful/mal/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia