Sabtu, 17 Nov 2018
radarkudus
icon featured
Features
Siswa MAN 2 Kudus, Peraih Medali Emas Myres

Rayap dan Puntung Rokok Antarkan Jadi Juara

Minggu, 28 Oct 2018 22:01 | editor : Ali Mustofa

TUNJUKKAN: Muhammad Rifda Kamil (kanan) bersama Tsalis Rizka Mubarok siswa MAN 2 Kudus menunjukkan medali kompetisi nasional Madrasah Young Supercamp (Myres) 2018.

TUNJUKKAN: Muhammad Rifda Kamil (kanan) bersama Tsalis Rizka Mubarok siswa MAN 2 Kudus menunjukkan medali kompetisi nasional Madrasah Young Supercamp (Myres) 2018. (INDAH SUSANTI//RADAR KUDUS)

Puntung rokok dianggap sampah, dan mengotori lingkungan. Siapa sangka, ternyata memiliki manfaat yang positif? Dua siswa kreatif MAN 2 Kudus, Muhammad Rifda Kamil dan Tsalis Rizka Mubarok, mengolah bahan mengusir rayap.

INDAH SUSANTI, Kudus.

Kreatif tak perlu dari hal-hal yang rumit, tapi bisa ditemukan dari hal yang sepele bahkan orang sudah tidak menganggapnya, bisa dijadikan bahan yang berguna. Seperti dua siswa kelas XII MAN 2 Kudus, yang menemukan eksperimen kertas anti rayap dari puntung rokok.

Dua anak muda yang jeli dalam memafaatkan limbah sampah tersebut, yakni Muhammad Rifda Kamil, dan Tsalis Wizka Mubarok. Ide membuat kertas anti rayap dari puntung rokok, bermula melihat warung sekitar sekolahnya banyak berserakan puntung rokok.

Menurut keterangan Rifda, merasakan keprihatinan yang hanya bisa membuat kotor lingkungan. Kemudian, dipungutnya tapi dengan berpikir ini nantinya dibuat apa. Selang beberapa hari teman sekamar di asrama atau boarding school, bukunya lama tersimpan, namun setelah dibuka rusak semua karena dimakan rayap.

Dia langsung terbesit ide, untuk membuat bahan anti rayap. Kemudian, Rifda berdiskusi dengan Tsalis dari bahan apa kalau membuat anti rayap yang sederhana. Kemudian, mereka berdua tiba-tiba teringat salah satu pelajaran Biologi yang menerangkan nikotin bisa menjadi bahan insektisida.

”Kami langsung mengutarakan ide kepada guru pembimbing sains, kalau ingin membuat eksperimen puntung rokok yang dijadikan kertas anti rayap. Ternyata, guru kami mendukung, dan kebetulan ada informasi kompetisi penelitian dari Kementerian Agama (Kemenag) pusat yakni Madrasah Young Supercamp(Myres)” tandasnya.

Rifda bersa Tsalis langsung menyelesaikan projeknya membuat proposal supaya bisa diikutkan kompetisi Myres. Mereka berdua menyelesaikan proposal tentang puntung rokok dijadikan kertas anti rayap selama satu bulan.

”Dikirim via email. Kemudian, menunggu selama dua minggu. Ternyata lolos lima besar bidang sains dan teknogi, jumlah peserta seluruh Indonesia,” ungkapnya.

Dua siswa tersebut melanjutkan eksperimen, caranya mengambil sisa tembakau pada puntung rokok kemudian mengekstraksi dengan metode maserasi. Setelah diperoleh ekstraksi, ditambahkan pada bahan bubur kertas, lalu dicetak.

Ada lima kertas yang dibuat dengan konsentrasi ekstrak tembakau. Konsentrasi kertas pertama 0 persen, kertas kedua dengan konsentrasi satu persen, konsentrasi kertas ketiga dengan dua persen, konsentrasi kertas keempat dengan empat persen, dan konsentrasi kertas kelima dengan delapan persen. 

”Kami membuat kertas daur ulang sendiri. Sehingga, didalam pembuatan kertas mencampurkaan ekstrak tembakau tersebut,”terangnya.

Setelah kertas jadi, mereka menguji coba dengan membuat kompartemen berbahan pralon yang diisi rayap dan diberikan kertas dengan masing-masing konsentrasi. Hasilnya, di kertas pertama, kedua, dan ketiga ada yang mati sebagian.

Pada kompartemen keempat yang diisi kertas anti rayap pada konsentrasi tembakau empat persen, lanjutnya, seluruh rayap mati. Hal berbeda justru pada kompartemen kelima dengan kertas anti rayap konsentrasi delapan persen. Di sana, sebagian rayap justru masih bertahan hidup. 

”Setelah kami teliti, ternyata dengan konsentrasi tembakau yang besar, menimbulkan aroma yang menyekat, sehingga sebagian rayap memilih menghindari kertas dan bisa bertahan hidup. Sebagiannya lagi tetap memakan kertas sehingga mati,” terang Tsalis.

Untuk membuat uji coba tersebut, Rifda dan Tsalis membutuhkan waktu sekitar tiga hari. Sedangkan proses dari awal pembuatan proposal sampai menjadi finalis Madrasah Young Researcher Supercamp (Myres) membutuhkan waktu hampir satu tahun. Proses ini dinikmatinya dengan terus memperbaiki produknya.

”September lalu, kami mengikuti penilai akhir sebagai finalis di Bengkulu. Alhamdulillah kami meraih medali emas,” terang siswa kelas XII MIA ini.

Rifda dan Tsalis yang saat ini berusia 17 tahun, dan menjadi partner dalam kompetisi sains, tapi keinginan mereka setelah lulus berbeda. Untuk Rifda berkeinginan masuk perguruan tinggi mengambil jurusan Hubungan Internasional, sedangkan Tsalis berkeinginan melanjutkan ke teknik industry.

(ks/him/top/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia