Rabu, 19 Dec 2018
radarkudus
icon featured
Rembang

Cegah Perahu Karam saat Musim Baratan, Proyek Tambatan Dikebut

21 Oktober 2018, 19: 25: 51 WIB | editor : Ali Mustofa

DIKEBUT: Sejumlah kendaraan truk dump mengangkut material untuk membuat tambatan perahu di Dukuh Pendhok, Manggar, Sluke.

DIKEBUT: Sejumlah kendaraan truk dump mengangkut material untuk membuat tambatan perahu di Dukuh Pendhok, Manggar, Sluke. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

REMBANG – Proyek tambatan perahu di Dukuh Pendhok, Desa Manggar, Sluke, terus dikebut pengerjaannya. Pembangunan ini sangat dibutuhkan, karena digadang-gadang bisa mencegah belasan kapal karam akibat dihantam ombak. Terutama saat musim baratan.

Hanya, oleh nelayan setempat pembangunan ini dinilai kurang maksimal. Sebab, dari sisi ukuran masih kurang panjang.  Proyek tambatan perahu ini, memiliki panjang 52 meter, lebar atas 6 meter, dan lebar bawah 12-14 meter. Menurut nelayan setempat, idealnya luasnya dua kali lipat. Hal ini untuk benar-benar menjaga kapal nelayan dari terjangan ombak.

Kapal nelayan di lokasi itu memang cukup banyak. Saat ini, yang masuk di paguyuban Singa Laut mencapai 100 kapal. Namun, jumlah total kapal di lokasi ini mencapai tiga kali lipatnya.

Namun, proyek tanpa papan nama ini, ke depan masih akan dikembangkan lagi. Saat ini sudah digelontor Rp 601 juta atau sekitar 75 persen dari pagu anggaran total senilai sekitar Rp 991 juta.

Mahmud, kepala Desa Manggar, menjelaskan, proyek tambatan perahu di desanya sudah dikerjakan sejak 2 Oktober lalu. Dengan target pengerjaan 60 hari dengan memanfaatkan sumber dana dari dana desa 2018.

”Ini fungsinya untuk penyelamatan perahu warga. Mengingat saat musim baratan, kapal nelayan sini sering berlindung di tempat lain,” ungkapnya kemarin.

Kebijakan ini dilakukan karena setiap tahun ada lebih dari empat kapal nelayan pecah. Kerusakan ini disebabkan banyaknya bebatuan besar.

Menurut Mahmud, pembangunan tambatan perahu ini sudah melalui proses musyawarah desa (musdes) yang dihadiri nelayan dan masyarakat. Mengingat nelayan sangat membutuhkan, akhirnya saat musdes disetujui.

Sukri, salah satu nelayan, menyampaikan, dalam waktu tiga tahun terakhir, tercatat ada sekitar 15 perahu nelayan karam. Ini setelah kapal itu disapu ombak. ”Adanya proyek tambatan perahu ini, memang sangat dibutuhkan nelayan. Namun, dari sisi panjangnya belum ideal. Sebab belum maksimal menampung jumlah perahu yang ada,” katanya.

Dia menuturkan, idealnya panjangnya 75 meter, agar ke depan dapat menampung seluruh perahu nelayan. ”Di sini ada sekitar 400 nelayan dengan total 100 kapal. Saat musim baratan, kami memarkir kapal di lokasi yang aman di luar desa,” imbuh ketua Penguyuban Nelayan Singa Laut ini.

(ks/noe/lin/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia