Rabu, 19 Dec 2018
radarkudus
icon featured
Rembang

Diduga Ditipu Saudara Angkat, Tanah Dieksekusi Pengadilan

12 Oktober 2018, 19: 28: 06 WIB | editor : Ali Mustofa

TURUNKAN GENTING: Warga menurunkan genteng rumah yang digunakan sebagai kandang oleh keluarga Mbah Muin.

TURUNKAN GENTING: Warga menurunkan genteng rumah yang digunakan sebagai kandang oleh keluarga Mbah Muin. (SAIFUL ANWAR/RADAR KUDUS)

SLUKE – Mbah Muin dan keluarga hanya bisa pasrah, setelah tanah seluas 2x15 M yang dimilikinya selama puluhan tahunmenjadi bagian dari eksekusi yang dilakukan Pengadilan Negeri Rembang kemarin. Padahal, keluarga mengantongi sertifikat yang sah.

Pihak keluarga Mbah Muin yang diwakili Karomin menceritakan, keluarganya memiliki sertifikat tanah seluas 106 meter dari 212 meter yang dieksekusi. Sertifikat tersebut didapatkan setelah pihak keluarga menebus sertifikat yang digadaikan oleh seorang bernama Rohman dengan tanah seluas 212 meter.

”Kami memiliki akta jual beli untuk tanah 2x15 meter itu. Dulu dibeli oleh kakak saya Rp 2,5 juta tahun 1997. Tapi kami tidak tahu dari pihak desa katanya sudah hangus,” paparnya.

Namun demikian, pihaknya mengaku tak begitu memahami apakah tanah yang dibeli itu bagian dari sertifikat tanah seluas 106 meter tersebut. Pihaknya sebenarnya berharap perangkat desa bisa membantu permasalahan tersebut. Namun, yang terjadi justru eksekusi tanah yang sudah dimiliki puluhan tahun itu.

Sementara itu, Rohman yang diduga telah menipu keluarga Mbah Muin kemarin tak tampak batang hidungnya. Sebagaimana selama musyawarah dan ketika di bawa ke pengadilan. Padahal, Rohman adalah aktor utama dalam proses penggadaian sertifikat untuk tanah seluas 212 meter tersebut.

Karomin menjelaskan, asal usul tanah seluas 212 m adalah milik Alm. Sariman  memiliki anak  angkat bernama Rohman. Adapun nama dalam sertifikat tanah tersebut yakni Rohman Sariman. Kemudian tanah dibeli alm. Sutini yang merupakan mertua Rohman dan Mbah Muin.

Karena kondisi ekonomi terpuruk, Rohman menggadaikan sertifikat  itu di Bank Pasar Juwana Kabupaten Pati tanpa sepengetahuan keluarga dan iparnya. Pembayaran yang macet membuat Rohman menawarkan separo tanah seluas 212 meter itu kepada Aminah yang merupakan putri Mbah Muin. Dengan perjanjian, sertifikat akan dipecah menjadi dua, yakni atas  nama  Aminah dan Rohman dengan luasan masing -masing  106 meter.

Kemudian karena terlibat kasus kriminal Rohman kembali dan membutuhkan uang, Rohman  menjual lagi tanahnya seluas 2 x 15 meter kepada Kuswanto yang merupakan putra Mbah Muin dengan dibuktikan akte jual beli. Tanah tersebutlah yang digunakan untuk kandang.

Namun anehnya, sertifikat tanah milik Rohman diagunkan lagi ke Bank Pasar Rembang dan dalam sertifikat tersebut luasan  tanah  masih tercatat  212 M2. Karena angsuran macet lagi, dengan difasilitasi bank pasar, tanah itu dibeli oleh Suparmanto yang merupakan tetangga Rohman melalui musyawarah desa. Karena tak ada titik temu dalam musyawarah tersebut, akhirnya Suparmanto menggugat Mbah Muin ke pengadilan.

Pengacara pihak Suparmanto selaku penggugat, Zainudin menyebut upaya penyelesaian yang belum ada titik temu membuat pihaknya mengajukan eksekusi di pengadilan.

"Setelah jual beli, ada pengukuran tanah. Namun ada salah satu tanah yang dikuasai pihak lain. Yakni untuk kandang oleh Pak Muin. Hal itu telah terjadi pada tahun 2017 lalu. Dan itu juga sudah ada penyelesaian di balai desa. Namun tak ada titik temu, sehingga dibawa ke pengadilan," paparnya.

(ks/ful/ali/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia