Sabtu, 17 Nov 2018
radarkudus
icon featured
Jepara

Harga Bahan Baku Mebel Naik, Pengusaha Inginkan Dolar Stabil

Jumat, 12 Oct 2018 19:12 | editor : Ali Mustofa

TAK STABIL: Rupiah yang tidak stabil membuat perajin eksportir meleset memperhitungkan biaya produksi dan pemasukan. Kenaikan nilai tukar dolar atas rupiah ini tidak berpengaruh signifikan terhadap bisnis ekpor mebel.

TAK STABIL: Rupiah yang tidak stabil membuat perajin eksportir meleset memperhitungkan biaya produksi dan pemasukan. Kenaikan nilai tukar dolar atas rupiah ini tidak berpengaruh signifikan terhadap bisnis ekpor mebel. (M. KHOIRUL ANWAR/RADAR KUDUS)

KOTA - Melejitnya nilai tukar Dolar Amerika Serikat (USD) terhadap mata uang rupiah, tak memberi dampak signifikan terhadap dunia usaha mebel dan kerajinan ukir di Jepara. Hingga kemarin nilai tukar dolar terhadap rupiah mencapai sekitar Rp 14.319.

Melemahnya nilai tukar rupiah, diikuti dengan naiknya beberapa bahan baku dan bahan bantu pembuatan mebel dan juga kerajinan ukir. Sehingga pengeluaran juga ikut naik. Sementara estimasi pemasukan dengan naiknya dolar digunakan untuk menutupi kenaikan harga bahan baku. "Terutama bahan-bahan untuk finishing. Seperti tiner, yang itu masih didatangkan dari luar, ada kenaikan sekitar lima persen," kata Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Jepara Maskur Zaenuri.

Menurut dia, melemahnya nilai tukar rupiah pada 1998 dan 2018 ini mempunyai dampak berbeda, terhadap dunia usaha mebel dan ukir di Jepara. Dikatakan, pada 1998 melejitnya nilai tukar USD sangat berdampak positif bagi para pelaku usaha mebel dan kerajinan ukir Jepara.

"Saat itu, mebel Jepara belum begitu dikenal di pasar internasional. Begitu krisis 1998, nilai tukar rupiah melemah, mebel dan ukir Jepara jadi primadona," ucapnya.

Kala itu, sambung dia, membeli mebel di Jepara seperti beli satu dapat dua atau tiga. Karena itu, pasar internasional menyambut baik, dengan berbondong-bondong memborong produk mebel dan ukir dari Jepara.

"Dampaknya signifikan betul. Omzet naik tajam. 1998 jadi berkah bagi pengusaha mebel di Jepara. Daya beli dari negara luar juga meningkat. Sedangkan saat ini daya beli cenderung menurun. Jadi tidak terlalu pengaruh," kata owner CV. Aulia Jati Indofurni ini.

Namun, sambung dia, pelan-pelan pasar ekspor mebel Jepara mengalami titik jenuh. Hal itu, diperparah dengan ulah segelintir oknum, yang tak menjaga kualitas mebel. Serta, praktik penipuan di dunia maya, yang mengatasnamakan pelaku usaha di Jepara.

"Kenaikan Dolar di 2018 ini tidak bisa menjadi berkah, seperti pada 1998 dulu. Kondisinya berbeda, saat ini pasar internasional mengalami titik jenuh," jelasnya.

Dituturkan lebih jauh, secara keseluruhan melambungnya nilai tukar USD saat ini justru menjadi dilema bagi pelaku usaha mebel dan kerajinan ukir di Jepara. Di satu sisi order tidak merangkak naik secara signifikan. Di sisi lain harga bahan baku dan bahan bantu justru mengalami kenaikan.

"Artinya, margin keuntungan semakin berkurang. Terlebih, bagi mereka yang bermain di pasar dalam negeri, keuntungan semakin tergerus," tuturnya.

Ia berharap, nilai tukar rupiah semakin stabil dan tak terjadi fluktuasi. Menurut dia, fluktuasi nilai tukar rupiah tidak menguntungkan bagi dunia usaha.

(ks/zen/war/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia