Sabtu, 17 Nov 2018
radarkudus
icon featured
Cuitan

Hidup Sehat tanpa Makan Nasi

Senin, 27 Aug 2018 07:05 | editor : Panji Atmoko

direktur radar kudus baehaqi

direktur radar kudus baehaqi (dok. radar kudus)

Ketika mau salat magrib kemarin saya nge-share video bloger yang belakangan terkenal dengan vlog. Tentang sarapan sehat. Tidak sampai semenit kemudian, seorang teman berkomentar, “Sehat apa  ngirit.” Saya jawab dengan guyonan sesuai maksud dia juga. “Ngirit Kang, biar bisa kawin lagi,” ujar saya.

Vlog saya itu berisi menu sarapan yang tidak menggunakan nasi. Juga tidak memakai daging, ayam, sea food, maupun hewan lainnya. Hanya menggunakan sayur. Yaitu, sebuah kentang, sebuah wortel, dua biji kacang panjang, dan dua potong tahu.

Menu itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh sehat selama setengah hari. Sudah ada karbohidratnya, kalori, dan protein.  Saya sering memakannya hanya dengan garam yang saya masukkan saat memasak. Tetapi, kemarin saya gunakan mayonais.

Semua bahan saya rebus biar semakin sehat. Kalau digoreng justru sama dengan menambah kolesterol. Bisa juga dengan dibakar atau dioven. Tetapi, itu ribet. Saya suka yang praktis.

Seorang teman lain berkomentar. “Kamu sekarang kok seperti saya,” ujarnya. Sudah sebulan belakangan dia tidak makan nasi. Makanan pokok berkarbohidrat tinggi itu dia ganti dengan kentang atau umbi-umbian lainnya. Sama dengan menu sarapan saya kemarin. Dia memutuskan menghindari nasi setelah gula darahnya mencapai 600 mg. Di atas 200 miligram saja sudah dikatakan over. Maka dia harus opname di rumah sakit seminggu.

Sepintas nasi memang tidak manis. Tetapi, studi  Harvard School of Public Health mengindikasikan makan nasi sepiring sehari secara teratur meningkatkan risiko diabet hingga 11 persen. Ngeri. Padahal, kebanyakan orang makan sehari tiga kali.

Nasi mengandung karbohidrat. Nah, karbohidrat itulah yang kemudian berubah menjadi gula. Ini gampang terserap oleh darah. Lonjakan gula dalam darah membuat pankreas yang memproduksi insulin bekerja ekstrakeras. Produksi insulin tak seimbang dengan masuknya gula. Akibatnya, gula menumpuk dalam darah. Terjadilah diabetes.

Data dari berbagai publikasi menyebtukan, 100 gram nasi atau kira-kira sekepal tangan saja mengandung 27,9 gram karbohidrat, 129 gram kalori, 0,28 gram lemak, dan 2,66 gram protein. Sehari, orang awam mengonsumsi sekitar lima kepal atau 500 gram nasi. Kalau dirata-rata kandungan gula dalam sepiring nasi sama dengan dua sendok gula putih.

Sudah lama saya mengurangi gula. Kalau membikin teh setiap hari sudah sama sekali tanpa gula. Jadi betul-betul rasa teh. Bukan rasa gula. Bahkan membikin kopi pun sering demikian. Akhir pekan lalu saya membikinkan kopi untuk manajer saya di Radar Kudus Heny Susilowati dengan hanya sedikit gula. Rasa gulanya tipis sekali. Dia malah berkomentar, “Saya sudah sering minum kopi tanpa gula,” ujarnya.

Manajer saya itu memiliki tubuh ideal. Sepanjang saya tahu dia terus langsing (Saya juga, hehehe. Berat badan saya tak pernah melebihi 65 kilogram. Malah sekarang cuma 60 kilogram). Perutnya tidak pernah kelihatan besar kecuali saat hamil. Anaknya dua. Saya tahu dia membatasi karbohidrat terutama nasi yang masuk ke tubuhnya. Kalau sedang makan bersama di warung atau rumah makan, dia selalu minta nasinya separo dari porsi normal. Itu pun sering tidak dihabiskan.

Kopi tanpa gula sudah membiasa di kafe-kafe modern. Jumat minggu lalu saya bersama semua manajer Radar Semarang minum kopi di Kafe Beyond. Saya memilih kopi Jawa Barat yang disajikan dengan sipon. Alat ini terdiri atas dua tabung. Air ditaruh di tabung bawah kemudian dipanasi. Uapnya naik ke tabung atas yang kemudian seluruh air berpindah ke tabung atas. Kopi dituang. Setelah apinya dimatikan sari kopi menetes ke bawah. Kopi yang disajikan itu sama sekali tanpa gula. Bahkan, saya tidak diberi gula sachet sebagai pilihan.

Banyak orang mengatakan kalau tidak makan nasi badan menjadi lemas. Itu adalah mitos. Benar-benar mitos. Saya sudah membuktikan. Pernah saya tidak makan nasi selama setahun. Yang terjadi, badan saya malah semakin sehat. Kandungan gulatidak pernah melebihi 200 miligram. Aktivitas saya tidak terganggu sama sekali. Mobilitas tetap terjaga. Saat itu (sampai sekarang, hehehe), saya tinggal di Sidoarjo, Jatim. Pekerjaan di Radar Kudus dengan lingkup enam kabupaten. Sekarang ditambah Radar Semarang dengan 12 kabupaten/kota.

Kebutuhan gula dalam tubuh manusia normal itu sebenarnya hanya empat sendok makan atau 12 sendok teh. Lebih dari itu berisiko kegemukan, diabetes mellitus, gangguan jantung, dan ginjal.

Kalau semakin banyak orang yang mengurangi konsumsi gula dengan membatasi nasi, suatu saat Indonesia surplus gula dan kelebihan beras. Nasi bisa diganti dengan kentang, ketela, gandum, atau beras merah. Jadi, mari kita hidup sehat tanpa nasi. (hq@jawapos.co.id)

(ks/lin/aji/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia