Rabu, 19 Dec 2018
radarkudus
icon featured
Hukum & Kriminal

Kenal Tiga Hari sebelum Kejadian, Korban Dibooking Rp 3 Juta

09 Agustus 2018, 07: 00: 59 WIB | editor : Panji Atmoko

KEJI: Tersangka saat digelandang di Mapolres Blora kemarin.

KEJI: Tersangka saat digelandang di Mapolres Blora kemarin. (Subekan/radar kudus)

BLORA – Kristian Ari Wibowo, pembunuh Ferin Diah Anjani, 21, warga RT 4/RW 16, Desa Sendangmulyo, Tembalang, Semarang, akhirnya buka suara. Dia mengaku mem-booking korban seharga Rp 3 juta dan dibayar di muka. Tujuannya untuk melayani seks dengan gaya yang dikehendaki pelaku.

Untuk itu, dia sudah menyiapkan lakban untuk aksinya. ”Transaksinya di awal. Uang sudah diterima,” terang Kristian Ari Wibowo dengan tenang saat rilis di Mapolres Blora kemarin. Laki-laki kelahiran Blora ini mengaku, saat berhubungan intim, pertama kedua tangan korban diikat. Selanjutnya, kedua kaki korban dilakban. Namun korban mulai berontak. Tangan pelaku digigit hingga kesakitan. Korban juga teriak.

Kondisi ini membuat pelaku panik. Apalagi korban tidak mau ditenangkan. ”Kemudian (Ferin) saya cekik dan hidungnya saya bungkam dengan bantal. Setelah meninggal saya bungkus dengan sprei kamar hotel dan saya masukkan ke mobil,” jelasnya.

Pelaku mengatakan, membawa korban yang dianggap sudah meninggal ke luar dari hotel tanpa diketahui orang lain. Korban yang dibungkus sprei dibawa dengan dibopong. Setelah sampai di parkiran, korban dimasukkan dalam bagasi mobil dan dibawa ke Blora. Selanjutnya dibakar di tengah hutan. ”Niat bakar untuk menghilangkan jejak. Karena 2011 lalu saya pernah melakukan ini dan tak terbongkar. Saat membakar ada perasaan takut dan gemetar. Menyesal juga,” ucapnya.

Dia mengaku, sejak awal dia juga ingin menguasai perhiasan yang dipakai korban. Tidak ada niatan untuk membunuhnya. Niatan hanya ingin mengambil emas. Namun dalam prosesnya ada perlawanan, sehingga terjadi insiden pembunuhan tersebut.

Dari korban, dia berhasil menggasak perhiasan berupa gelang, kalung, dan cincin. Selanjutnya digadaikan seharga Rp 4 juta. ”Uangnya untuk bayar utang Rp 2,5 juta. Sisanya untuk keperluan sehari-hari,” tandasanya.

Dia sebelumnya menjadi manajer front office salah satu hotel di Semarang. Dia mengaku mempunyai gaji sekitar Rp 6 juta per bulan. Namun dia juga masih mempunyai utang di beberapa tempat. Tiap bulan dia harus mengangsur utang Rp 2,1 juta.

Menurutnya, korban sudah meninggal sebelum dibawa ke Blora. Namun dari keterangan polisi dan hasil otopsi, korban masih hidup saat dibawa ke Blora. ”Saya kira sudah meninggal, sebab tidak bernapas dan kakinya pucat. Tapi informasi dari penyidik, korban masih hidup,” terangnya.

Saat ini pelaku meringkuk di sel tahanan Mapolres Blora. Kristian diancam dengan pasal 340, 338, dan 366 KUHP dengan hukuman maksimal penjara seumur hidup atau hukuman mati.

 Kapolres Blora AKBP Saptono mengungkapkan, pelaku berkenalan dengan korban, Ferin melalui akun media sosial (medsos) Instagram tiga hari sebelum kejadian atau Minggu (29/7). Berawal dari perkenalan itu, keduanya lantas saling berkirim pesan dan bertukar nomor handphone. Hingga pada akhirnya keduanya bersepakat untuk berkencan dan bertemu di salah satu hotel di Semarang pada Selasa (31/7).

”Saat pertemuan itu, pelaku datang terlebih dahulu di hotel menggunakan sepeda motor Yamaha Mio. Sedangkan korban datang menggunakan taxi online yang dipesan oleh korban melalui salah satu teman kosnya,” terangnya.

Saat berada di dalam kamar hotel, keduanya lantas berhubungan intim satu kali. Karena sebelumnya sudah disepakati bahwa akan melakukan fantasi seksual, maka pelaku kemudian mengikat tangan korban menggunakan lakban yang sudah dipersiapkan pelaku.

”Pada saat tangannya diikat dengan lakban, korban menurut saja. Namun ketika kakinya juga diikat, korban mulai berontak dan berteriak. Karena panik, pelaku kemudian membungkam mulut korban dengan tangan dan menutup hidung pelaku dengan bantal,” bebernya.

Saptono menjelaskan, saat kondisi itu korban kemudian terjatuh dari atas kasur dan kepalanya terbentur lantai. ”Pengakuan pelaku ketika kita cocokkan dengan hasil otopsi itu sesuai. Yakni ada bekas benturan benda tumpul di kepala korban,” terangnya.

Setelah korban tidak berdaya, korban lalu dinaikkan kembali di atas tempat tidur dan kepalanya dibekap menggunakan bantal. Setelah itu, tangan beserta kaki korban diikat menggunakan lakban. Begitu juga dengan mulutnya. Selanjutnya pelaku meninggalkan hotel untuk meminjam mobil Honda Jazz milik temannya.

”Kurang lebih satu jam, tepatnya pukul 19.00 Kristian kembali lagi ke hotel dengan membawa mobil Honda Jazz. Kristian lantas membungkus Ferin menggunakan sprei hotel,” katanya.

(ks/sub/lin/aji/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia