Rabu, 19 Dec 2018
radarkudus
icon featured
Inspirasi
Arif Ulin Niam, Pendiri Kopdar

Bermodal HP dan Sebar Brosur, Kini Punya 40 Mitra Driver

04 Juni 2018, 08: 49: 47 WIB | editor : Ali Mustofa

Arif Ulin Niam

Arif Ulin Niam (Dok Pribadi)

Ide gila Arif Ulin Niam membikin jasa Kudus Order Pesan dan Antar (Kopdar) membuahkan hasil. Bermodal handphone (HP) dan menyebar brosur, Arif kini memiliki 40 mitra driver. Dari usahanya ini, dia mampu meraup beromzet Rp 10 juta.

NOOR SYAFAATUL UDHMA, Kudus

KETIKA kebanyakan anak muda ingin bekerja di perusahaan, Arif Ulin Niam justru mengambil jalur alternatif. Dia memilih membikin usaha. Usaha dalam bidang jasa. Namanya Kopdar, kependekan dari Kudus Order Pesan dan Antar. Usahanya mirip dengan pesaingnya, Grab dan Gojek.

Arif -sapaan akrabnya- memulai usahanya pada 2016. Tepat setahun kelulusannya dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Saat itu, Grab maupun Gojek belum masuk Kudus. Melihat celah baik itu, Arif memutuskan membikin Kopdar.

Bermodal uang Rp 3 juta dan handphone, Arif mulai mencari mitra. Beruntung beberapa temannya mau bekerja sama menjadi mitra driver. Setelah mendapat mitra, dia mulai menyebar brosur. ”Awal merintis memang sangat sulit. Saya hanya memiliki modal handphone dan motor. Beruntung, sedikit demi sedikit warga percaya dan menggunakan jasa kami,” ungkapnya.

Awal merintis memang tidak banyak yang menggunakan jasa ini. Untuk itu, dia berusaha mengenalkan Kopdar melalui iklan di media sosial. Awal-awal responnya belum baik. Namun setelah melewati setahun, warga sudah mulai familiar dengan Kopdar.

”Kami memang fokus mengenalkan Kopdar dulu. Jika tidak kenal, saya pikir warga tidak akan menggunakan jasa kami. Benar saja, setelah familiar dengan Kopdar, pelanggan mulai datang sendiri,” terang pria yang hobi makan petai ini.

Jasa Kopdar bermacam-macam. Mulai dari delivery order, pesan antarbarang, ojek, belanja bulanan, dan jastip (jasa titip) belanja di kota-kota besar. Untuk jastip sendiri, saat ini sudah rutin setiap Rabu dan Sabtu.

Untuk harga, dimulai dari Rp 7 ribu hingga ratusan ribu. Hal itu disesuaikan dengan jarak tempuh dan pesanan. ”Misalnya di sekitar Kota Kudus tarif dimulai Rp 7 ribu. Sedangkan jika lebih dari 10 km harga mulai dari Rp 25 ribu,” tuturnya.

Lelaki asal Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus, ini mengaku ada beberapa kendala dalam menjalankan usaha ini. Mulai dari cuaca, warung tutup yang otomatis pesanan cancel, dan sudah diorder tetapi dibatalkan. Bahkan pihaknya pernah di-block pelanggan karena membatalkan pesanan.

Kendati demikian, sebisa mungkin pihaknya meminimalisasi kendala. Mulai dari memberikan layanan yang baik dan gratis ongkir (dalam hal tertentu). ”Ya, kena tipu memang sering. Namanya juga usaha. Namun selagi kami kerja sungguh-sungguh, pasti ada hal baik yang akan kami terima,”paparnya.

Kini, lelaki kelahiran Kudus, 19 Juli 1992 ini, mengaku sudah memiliki sekitar 5 ribu pelanggan. Dengan frekuensi order setiap hari mencapai 200 pesanan. Untuk melayani pelanggan, dia saat ini sudah memiliki tiga admin dan 40 mitra driver.

Dari mitra inilah, dia mendapatkan omzet Rp 10 juta. ”Kalau perputaran uang setiap bulannya bisa mencapai Rp 50 juta. Namun, untuk omzet Kopdar sendiri bisa mencapai Rp 10 juta,” katanya.

Meski tak sepopuler Grab atau Gojek, Kopdar memiliki pelanggan setia. Mulai dari pelajar hingga ibu-ibu pengajian. Bahkan rata-rata kafe dan restoran di Kudus sudah menjalin kerja sama pesan-antar melalui Kopdar. Peminatnya juga lumayan.

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia