Selasa, 20 Nov 2018
radarkudus
icon featured
Jepara
Mujahadah Nisfussanah Salawat Wahidiyah

Romo KH Abdul Latif Madjid RA:  Sjech Siti Jenar Seorang Wali Besar

Sabtu, 12 May 2018 16:55 | editor : Ali Mustofa

 Hadrotul Mukarrom Kanjeng Romo KH Abdul Latif Madjid RA: Pengasuh Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo, Kediri, Jawa Timur.

 Hadrotul Mukarrom Kanjeng Romo KH Abdul Latif Madjid RA: Pengasuh Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo, Kediri, Jawa Timur. (KHOIRUL ANWAR DAN TIM KBT FOR RADAR KUDUS)

"Sjech Siti Jenar itu seorang Wali Besar. Beliau telah mencapai tingkatan tasawuf yang tinggi. Jangan sampai kita su'udhonn kepada beliau. Jangan hanya memandang beliau dari kacamata fiqih," jelas Kanjeng Romo KH Abdul Latif Madjid RA di depan Makam Raden Abdul Djalil (Sunan Jepara) di Komplek Makam Mantingan, Tahunan Jepara, Kamis (10/5).

Pengasuh Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo al-Munadhdhoroh Kediri Jawa Timur itu, ziarah ke Makam Sjech Siti Jenar bersama dengan sekitar 1.200 bikers dari klub sepeda Kedunglo Biking Team (KBT) yang diikuti oleh bikers dari berbagai kota. Kegiatan dengan tajuk KBT Tour De Jepara itu dilaksanakan dalam rangkaian Mujahadah Nisfussanah Salawat Wahidiyah Provinsi Jawa Tengah di Lapangan Ngabul, Tahunan, Jepara, Kamis 10/5.

Kanjeng Romo Kiai RA mengatakan di hadapan Makam Sjech Siti Jenar. "Saya sudah lama ingin sowan kepada jenengan, ya Sjech Siti Jenar. Saya sudah sering berkomunikasi dengan murid-murid jenengan, saya mohon agar semua murid-murid jenengan mengamalkan Salawat Wahidiyah."

SEHAT: Pengasuh Perjuangan wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo, Kediri, Jawa Timur, Kanjeng Romo KH Abdul Latif Madjid RA dan Kanjeng Ibu Nyai Sholehah bersama Dandim Jepara Kapolres Jepara AKBP Y

SEHAT: Pengasuh Perjuangan wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo, Kediri, Jawa Timur, Kanjeng Romo KH Abdul Latif Madjid RA dan Kanjeng Ibu Nyai Sholehah bersama Dandim Jepara Kapolres Jepara AKBP Y (KHOIRUL ANWAR DAN TIM KBT FOR RADAR KUDUS)

Menurut Kanjeng Romo Kiai RA Sjech Siti Jenar memiliki derajat tinggi dalam tasawuf, yaitu maqom fana'. Fana' itu sebuah kondisi di mana orang tidak melihat wujud dirinya, karena dia melihat wujud Allah SWT yang lebih haqiqi. Wujud makhluq itu wujud yang tidak haqiqi, sedangkan wujud Allah adalah wujud haqiqi yang abadi.

Kontroversi ini sulit dipahami oleh orang awam. "Oleh karena itu, kita tidak boleh su'udhon dan jangan hanya melihat Sjech Siti Jenar dari sisi fiqih, jangan melihat hanya dari sisi syare'at semata-mata," tegas Kanjeng Romo Kiai RA.

Dalam perjalanan keagamaan, orang memang tidak boleh hanya berpedoman pada hakikat semata. Antara syare'at dan hakekat harus jalan dua duanya. Orang yang hanya berpedoman pada fiqih (syare'at), bisa jatuh kepada kefasiqan (kemaksiatan). Sedangkan orang yang hanya bertasawuf (hakikat) dengan meninggalkan fiqih (syare'at), bisa jatuh kepada zindiq (kesesatan aqidah). "Ini lebih berat. Risiko zindiq lebih berat," tegas Kanjeng Romo Kiai RA.

Menurut Kanjeng Romo Kiai RA, Sjech Siti Jenar aqidahnya dan Tasawufnya lurus, bukan zindiq. Hanya saja para Walisongo agak khawatir orang awam tidak memahami, kemudian dijadikan landasan untuk meninggalkan syare'at dan fiqih. "Pemahaman kita terhadap Sjech Siti Jenar harus diluruskan," tegas Kanjeng Romo Kiai RA.

Dalam perjalanan sejarah pemikiran dan peradaban Islam, memang ada sebuah masa di mana fiqih menjadi panglima. Sejarah Islam pernah mengalami chaos, sehingga umat membutuhkan kepastian hukum. Kondisi itulah yg membuat fiqih jadi "panglima", sehingga tasawuf, ilmu kalam, dan lain-lain harus dinilai kepastian hukumnya dengan kacamata fiqih.

"Sjech Siti Jenar mengalami peristiwa seperti al-Hallaj, di mana dia dihakimi oleh Walisongo dengan kacamata fiqih (syare'at), dengan pertimbangan kemaslahatan umat, bukan karena aqidahnya tidak lurus," Kanjeng Romo Kiai RA menjelaskan.

Sementara itu, dalam hal menjalankan ibadah, seorang hamba harus menyandarkan niatnya karena Allah. Ketika beribadah musuh yang utama adalah hawa nafsu atau keinginan yang ada dalam diri seseorang. Seseorang melakukan pekerjaannnya karena keinginan bukan karena Allah, maka seolah-olah ketaatannya kepada Allah tapi sebenarnya taat kepada hawa nafsu. Padahal yang ditaati manusia selain Allah dibenci oleh-Nya.

Hal itu disampaikan Pengasuh Perjuangan wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo, Kediri Kanjeng Romo KH Abdul Latif Madjid RA dalam Mujahadah Nisfussanah Provinsi Jawa Tengah dan Doa Bersama untuk Keberkahan Bangsa di Lapangan Ngabul pada Kamis (10/5) malam.

Ribuan jamaah pengamal Salawat Wahidiyah mendengarkan fatwa amanat yang disampaikan Kanjeng Romo KH Abdul Latif Madjid RA. Tidak ada jamaah yang asyik ngobrol dengan jamaah lainnya. Sebagian menundukkan kepala sambil memegang tasbih. Ada pula yang menangis ketika mendengarkan fatwa amanat.

“Allah menciptakan manusia dan jin kecuali hanya untuk beribadah kepadaNya. Maka apa pun yang manusia lakukan, niatkan karena Allah. Termasuk para pengamal Salawat Wahidiyah. Jangan bersalawat karena ingin diberikan rizki yang banyak. Jangan salawat karena ingin dibilang orang yang taat ahli ibadah. Maka berlatihlah mengendalikan hawa nafsu,” tuturnya.

Hawa nafsu, adalah musuh paling berat bagi manusia. Karena nafsu tidak terlihat. Sedangkan musuh dalam berperang berwujud fisik. Melalui jamaah pengamal Salawat Wahidiyah, hawa nafsu tersebut diolah untuk menjalankan ibadah. Beberapa metode yang digunakan jamaah lain, hawa nafsu sering kali dilawan. Semisal ingin makan maka berpuasa, ingin tidur maka begadang dzikir.

“Sedangkan pengamal Salawat Wahidiyah boleh melakukan hal yang wajar. Makanlah seperti apa yang kamu makan. Pakailah apa yang biasa kamu pakai. Namun hawa nafsu yang dilawan, sama saja ia beribadah bukan karena Allah. Puasa karena ingin melawan hawa nafsu, dzikir karena melawan keinginan untuk tidur. Memang berat beribadah hanya karena Allah. Maka metode Salawat Wahidiyah ini melatih untuk selalu ingat kepada Allah,” imbuhnya.

Dalam bersalawat, bacaan tersebut wusul atau nyambung kepada Rasulullah Muhammad SAW. Dengan harapan menyambungnya Rasulullah, apa yang dilakukan seorang hamba diridhoi Allah. Setiap waktu, dimana pun berada pengamal Salawat Wahidiyah dianjurkan bersalawat Ya Sayyidiii Ya Rusulullah.  Setiap helaan nafas yang masuk dan keluar selalu salawat. Baik secara lisan maupun di dalam hati. Penyampaian fatwa amanat tersebut sebagai rangkaian akhir mujahadah yang ditutup dengan doa.

Sebelum fatwa amanat, juga disampaikan kuliah Wahidiyah oleh Syifaul Umam. Dalam kuliahnya disampaikan dengan salawat jalan paling mudah untuk sampai kepada Allah. Khusunya bagi hamba yang selalu melampui batas. Memperbanyak istighfar dan salawat. Pada awal lahir wahidiyah salah satu pengamal bertanya kepada Kanjeng Romo KH Abdul Latif Madjid RA. Mengapa Salawat Wahidiyah tidak dijadikan thoriqoh.

“Kalau Wahidiyah jadi thoriqoh maka pengamal tidak akan kuat. Ada syarat tertentu yang harus dipenuhi murid dari mursyid atau guru. Jika sekali saja syarat itu tidak dipenuhi maka dianggap keluar dari thoriqoh. Maka salawat ini tetap diamalkan para pengamal sebagaimana petunjuk Kanjeng Romo KH Abdul Latif Madjid RA. Hal ini sebagai bentuk kasih sayang beliau yang diberikan kepada muridnya dengan tidak menjadikan salawat wahidiyah sebagai thoriqoh,” katanya.

Hadir pula dalam kegiatan tersebut Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Provinsi Jawa Tengah Supriyono yang mewakili Plt Gubernur Jawa Tengah. Juga Forkopimcam Tahunan dan tamu undangan lain. Ribuan jamaah datang dari berbagai daerah. Mulai dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jogjakarta, dan daerah lainnya. Jamaah tersebut pada pagi hari telah melaksanakan sepeda santai Kedunglo Biking Team (KBT) mulai dari Lapangan Ngabul sampai Pantai Bandengan. Dilanjutkan ziarah ke makam Raden Abdul Jalil Syekh Siti jenar Mantingan. Ada pula jamaah pengamal wahidiyah yang tidak mengikuti sepeda santai KBT namun langsung mengikuti mujahadah.

(ks/war/zen/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia