Sabtu, 19 Jan 2019
radarkudus
icon featured
Jepara
Mujahadah Salawat Wahidiyah Nisfussanah Jepara

Pesantren Kedunglo dan Poros Wali

08 Mei 2018, 15: 54: 19 WIB | editor : Ali Mustofa

Hadrotul Mukarrom Kanjeng Romo KH Abdul Madjid, RA, Pengasuh Perjuangan Wahidiyah dan Pondok pesantren Kedunglo.

Hadrotul Mukarrom Kanjeng Romo KH Abdul Madjid, RA, Pengasuh Perjuangan Wahidiyah dan Pondok pesantren Kedunglo. (MUJAHADAH SHOLAWAT WAHIDIYAH FOR RADAR KUDUSMUJAHADAH SHOLAWAT WAHIDIYAH FOR RADAR KUDUS)

Yayasan Perjuangan Wahidiyah akan menyelenggarakan Mujahadah Nisfussanah Jawa Tengah di Lapangan Ngabul, Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara, Kamis 10 Mei 2018. Acara Pengajian dan Doa Bersama ini diawali dengan event Sepeda Santai yang diikuti oleh Kedunglo Biking Team (KBT) dari seluruh Indonesia yang ditargetkan diikuti oleh 1000 bikers. Fatwa Amanat akan disampaikan oleh Pengasuh Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo, Kanjeng Romo KH Abdul Latif Madjid RA. Beliau juga akan memimpin para bikers yang rencananya akan dilepas oleh MENPORA H. Imam Nahrawi. Berikut kami sajikan profile Pondok Pesantren Kedunglo dan sejarah Shalawat Wahidiyah.

PERBINCANGAN mengenai poros waliyullah (kekasih Allah) sejak jaman kebangkitan ulama Indonesia, tidak pernah melewatkan pondok pesantren Kedunglo al-Munadhdhoroh. Ini karena pendirinya terkenal seorang waliyullah. Pendiri pesantren ini, Simbah KH Muhammad Ma’roef qoddasallah sirrahu wa radliyallahu anhu (QS. wa RA), pada jaman berdirinya Nahdlatul Ulama (NU), sudah dikenal karomahnya dan doanya mandi (mustajab atau terkabul).

SEMANGAT: Kanjeng Romo KH Abdul Latif Madjid RA (kaus hitam kuning) bersama Kanjeng Ibu Nyai Sholihah (kerudung kuning) dalam sebuah acara KBT belum lama ini.

SEMANGAT: Kanjeng Romo KH Abdul Latif Madjid RA (kaus hitam kuning) bersama Kanjeng Ibu Nyai Sholihah (kerudung kuning) dalam sebuah acara KBT belum lama ini. (MUJAHADAH SHOLAWAT WAHIDIYAH FOR RADAR KUDUS)

“Mbah Hasyim dan para ulama waktu itu, memposisikan Mbah Ma’roef sebagai tukang donga (ahli berdoa), karena doa Mbah Ma’roef selalu mustajab,” tutur Kanjeng Romo KH Abdul Latif Madjid RA, pengasuh Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo, yang memegang tampuk kepemimpinan saat ini. Lokasi Pondok Pesantren Kedunglo, berada di Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur.

KH Hasyim Asy’ari yang merupakan teman akrab tunggal seperguruan di tempat Syaechona Khalil Bangkalan, menurut Romo Yai Abdul Latif, mengajak Mbah Ma’roef turut mendirikan NU. Mbah Ma’roef duduk sebagai salah satu Mustasyar NU periode pertama dan kerap mendatangi Muktamar NU. Sebagai penasehat NU dan sudah terkenal karomah dan doa-doanya makbul, Mbah Ma’roef selalu didaulat untuk memimpin doa. Bahkan apabila para Ulama NU mengadakan Bahsul Masail dan menemui jalan buntu, mereka sowan Mbah Ma’roef untuk memohon petunjuk dan doa.

Kekuatan riyadloh (tirakat) pendiri Pesantren Kedunglo ini sangat terkenal. Menurut Romo Yai Abdul Latif, Mbah Ma’roef tidak dikaruniai akal pikiran yang cerdas seperti Mbah Hasyim, akan tetapi riyadloh-nya kuat sehingga diberikan ilmu ladunni (ilmu dari Allah SWT tanpa belajar). “Doa ilmu ladunni yang diijazahkan oleh para ulama sekarang ini, asalnya dari Mbah Ma’roef,” jelas Romo Yai Abdul Latif.

Mujahadah dan riyadloh menjadi tiang utama di Ponpes Kedunglo ini, menyertai proses belajar mengajar yang konvensional. Mujahadah merupakan pintu terbukanya hidayah (al-mujahadah miftahul hidayah), demikian spirit para santri. Pondok Pesantren ini bermisi mencetak wali yang intelek, dan intelektual yang wali. Tidak sekadar akal pikiran para santri diasah, akan tetapi hati para santri juga dibersihkan dengan mujahadah dan riyadloh.

“Ilmu itu ada di dalam hati, sesuai pernyataan para ulama al-ilmu fi al-shudur. Hakikat ilmu adalah nuur atau cahaya ilahi. Nur dari Allah tidak akan melekat pada hati yang kotor. Kalau kamu mau menimba ilmu, bersihkan dulu hatimu. Makanya ketika Imam Syafi’i mengadukan tentang susahnya menghafalkan ilmu kepada gurunya Syech Waki’, beliau mengatakan fa arsyadani ilaa tarkil ma’ashi. Syech Waki’ memberikan petunjuk agar meninggalkan maksiat,” Romo Yai Abdul Latif menjelaskan.

*  *  *

MUJAHADAH shalawat Wahidiyah menjadi basis perjuangan pondok pesantren Kedunglo. Mbah Ma’roef sebagai pendiri pondok pesantren, sejak awal sudah berpesan agar para santri dan anak cucunya lebih banyak mujahadah dengan shalawat. Dalam kisah perjuangan Mbah Ma’roef ketika masih jadi santri maupun ketika awal hendak membangun pondok pesantren Kedunglo, Mbah Ma’roef sering menggunakan mujahadah shalawat nariyah bilangan 4444 satu majelis.

Mbah Ma’roef berwasiat kepada para tamu dan famili agar mujahadah dengan mengamalkan shalawat. Seorang familI bernama Mbah Khomsah, suatu saat minta doa restu akan mengikuti bai’at sebuah thariqah. “Sah, gak usah bai’at thariqah, thariqah itu berat. Sepeninggalku nanti, di Kedunglo akan muncul shalawat yang bagus, tunggulah kamu akan menemukan shalawat itu,” ujar Mbah Ma’roef yang tutup usia pada tahun ke 103 dari kelahirannya. Benarlah, sekitar tujuh tahun dari wafat beliau, putra beliau Simbah Yai Abdoel Madjid Ma’roef QS wa RA, menyusun shalawat yang berkembang sampai sekarang: SHALAWAT WAHIDIYAH.

Mbah Yai Madjid Ma’roef, muallif Sholawat Wahidiyah ini, sejak muda suka dan rajin shalat malam, bermujahadah, tirakat, riyadlah, bertafakkur dan olah batin. Kebanyakan  amalannya berupa  shalawat Nabi SAW, seperti shalawat Nariyah, Badawiyah, Munjiyat, Masyisiyah dan lain-lain. Sepeninggal Mbah Ma’ruf (tahun 1956) pulang ke rahmatulloh, Mbah Madjid melanjutkan sebagai pengasuh Pondok Pesantren Kedunglo. Dalam kegiatan NU, KH. Abdoel Madjid Ma’roef duduk dalam kepengurusan Syuriyah di Kediri. Sedangkan kitab-kitab yang dikaji dan diajarkan dihadapan para santri pondok pesantren Kedunglo, antara lain kitab Tafsir Jalalain-nya Syeh Jalaluddin as-Suyuthi dan kitab al-Hikam-nya Syeh Ibnu ‘Athoillah as-Sakandari serta kitab-kitab fiqih madzhab Syafi’i.

Pada sekitar awal bulan Juli 1959, Mbah Madjid menerima alamat ghaib dalam keadaan terjaga dan sadar, bukan dalam mimpi. Alamat ghaib tersebut ditujukan kepada Mbah Yai Madjid agar turut serta memperbaiki dan membangun mental masyarakat lewat “Jalan Bathiniyah“. Sesudah menerima alamat ghaib tersebut, beliau sangat prihatin dan me-ngetok/memusatkan kekuatan batin, bermujahadah, munajat ber-ndepe-depe mendekatkan diri ke hadirat Alloh SWT, memohon bagi kesejahteraan umat dan masyarakat. Di antara do’a- do’a yang beliau amalkan yang paling banyak adalah shalawat.

Tak ada waktu terbuang tidak dipergunakan untuk membaca shalawat. Jika Mbah Madjid bepergian naik sepeda memegang stir dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya dimasukkan di dalam saku baju, untuk memutar tasbih. Shalawat Nariyah misalnya berkali-kali beliau khatamkan 4444 kali dalam tempo cepat sekitar satu jam. Pada sekitar tahun 1963, Mbah Madjid menerima alamat ghaib yang kedua dan ketiga. Ini bersifat peringatan terhadap alamat gaib yang pertama supaya cepat-cepat ikut berusaha memperbaiki mental umat masyarakat melalui bathiniyah. Bahkan alamat ghaib yang ketiga ini lebih keras sifatnya dari pada yang kedua.

“Malah kulo dipun ancam menawi mboten enggal-enggal berbuat dengan tegas (malah saya diancam kalau tidak segera berbuat dengan tegas,” demikian keterangan Mbah Madjid. “Saking kerasipun peringatan lan ancaman, kulo ngantos gemeter sak bakdanipun meniko (karena kerasnya peringatan dan ancaman, saya sampai gemetar sesudah itu,” tambah Beliau. Dalam situasi batiniyah yang senantiasa mengarah kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW itu, Mbah Madjid menyusun redaksi shalawat yang disebutnya, “kulo damel oret-oretan“. Tersusunlah naskah shalawat yang disebut shalawat ma’rifat. Penyusunan ini terjadi secara berangsur-angsur, kemudian muncul shalawat wahidiyah, shalawat saljul qulub, nida’ Ya Sayyidii Ya Rasulallah, Ya Sayyidii Ya Ayyuhal Ghouts dan seterusnya sampai lengkap dalam sebuah rangkaian yang disebut: SHALAWAT WAHIDIYAH.

*  *  *

SEMENJAK pesantren Kedunglo berada di bawah kepemimpinan Kanjeng Romo KH Abdul Latif Madjid RA, perjuangan semakin diperkuat dengan kelembagaan formal. Dibentuklah Yayasan Perjuangan Wahidiyah dengan Akta Notaris dan naungan Kementerian Hukum dan HAM. Seruan mengamalkan shalawat wahidiyah diwadahi dalam sebuah Yayasan Perjuangan yang formal. Kegigihan pengamal wahidiyah dalam menyerukan kepada masyarakat umum telah membuahkan hasil luar biasa. Pengamal shalawat wahidiyah telah memiliki perwakilan di hampir 26 provinsi di Indonesia, bahkan perwakilan di tingkat Kabupaten/Kota, Kecamatan dan sampai di tingkat desa ada imam-imam jamaah. Untuk daerah Pulau Jawa, perwakilan tingkat kecamatan di setiap Kabupaten/Kota bias mencapai 50 persen lebih.

Shalawat Wahidiyah juga diamalkan oleh banyak warga yang tinggal di Malaysia, Bruney Darussalam, Taiwan, Hongkong, Makau dan Makkah. Bahkan ada warga Negara Australia yang kebetulan istrinya orang Indonesia, turut mengamalkan shalawat wahidiyah. Menariknya, tidak sedikit pengamal shalawat wahidiyah dari Bali yang masih beragama Hindu. Mereka menganggap nida’ Ya Sayyidii Ya Rasulallah sebagai “mantera” yang mustajab. Ada beberapa yang kemudian memperoleh hidayah masuk Islam berkat shalawat wahidiyah.

Kebutuhan pendidikan dan ekonomi pengamal wahidiyah juga coba dipenuhi oleh Yayasan Perjuangan di bawah asuhan Kanjeng Romo Yai Abdul Latif Madjid RA. Tersedia pendidikan mulai dari dasar sampai perguruan tinggi. Ada 90 TK Wahidiyah, 20 SMP dan 8 SMA Wahidiyah dan 10 Pondok Pesantren Wahidiyah yang tersebar di berbagai kota di Jawa, bahkan di luar Jawa seperti Samarinda, Pontianak dan Sumatera Selatan. Wahidiyah juga memiliki sebuah Universitas Wahidiyah (UNIWA) di lingkungan Pondok Pesantren Kedunglo yang memiliki 6 Fakultas dengan 16 Program Studi.

Kemandirian Ekonomi Yayasan Perjuangan Wahidiyah juga dapat disimak dari kemampuannya membangun Koperasi Wahidiyah untuk kepentingan pengamal shalawat wahidiyah. Pada tahun 2017 Yayasan Perjuangan Wahidiyah memiliki 898 Koperasi Primer yang tersebar di tingkat Kecamatan. Tahun 2018 ini pembentukan koperasi digalakkan agar mampu mencapai target 1000 Koperasi Wahidiyah. Sebagian besar usaha koperasi tersebut di bidang Simpan Pinjam dan 294 di antaranya di bidang usaha sembako dan retail.

Kucuran Pinjaman dari Pusat untuk seluruh koperasi milik wahidiyah pada tahun 2016 mencapai 17 Milyar. Tahun 2017 ditargetkan kucuran pinjaman 23 Milyar, akan tetapi hanya terserap 13 Milyar. “Kucuran pinjaman ini sepenuhnya dari dana mandiri milik Yayasan Perjuangan Wahidiyah, tidak ada bantuan dari luar. Koperasi Wahidiyah sejauh ini dilarang menerima bantuan dari luar, karena dikhawatirkan belum mampu amanah mengelola dengan baik,” tegas Kanjeng Romo Yai Abdul Latif Madjid.***

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia