Rabu, 19 Dec 2018
radarkudus
icon featured
Rembang

Rembang Bakal Miliki Rumah Sakit Canggih

18 April 2018, 07: 15: 59 WIB | editor : Panji Atmoko

MITRA:  Direktur Radar Kudus Baehaqi (empat dari kanan) bersama  Presiden Komisaris Bhina Group Atna Tukiman (empat dari kiri), komisaris dan direksi RS Bhina Bhakti Husada dan para manajer Radar Kudus berfoto di depan lobi rumah sakit.

MITRA: Direktur Radar Kudus Baehaqi (empat dari kanan) bersama Presiden Komisaris Bhina Group Atna Tukiman (empat dari kiri), komisaris dan direksi RS Bhina Bhakti Husada dan para manajer Radar Kudus berfoto di depan lobi rumah sakit. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

REMBANG – Fasilitas canggih dimiliki Rumah Sakit (RS) Bhina Bhakti Husada Rembang. Meski belum resmi beroperasi, direktur dan karyawan Jawa Pos Radar Kudus menyaksikan kecanggihan itu kemarin. Salah satunya, pengiriman obat lewat pipa.

Sambutan hangat diterima Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi beserta karyawan begitu sampai di lobi rumah sakit. Komisaris Utama PT Bhina Raharja Husada sekaligus pemilik RS Bhina Bhakti Husada Atna Tukiman yang menyambut langsung.

TINGGAL PENCET: Dua dari kanan, Direktur RS Bhina Bhakti Husada dr. Ella Nurlaila, Direktur Radar Kudus Baehaqi,  Presiden Komisaris Bhina Group Atna Tukiman, Manajer Iklan Heny Susilowati dan Pemr

TINGGAL PENCET: Dua dari kanan, Direktur RS Bhina Bhakti Husada dr. Ella Nurlaila, Direktur Radar Kudus Baehaqi, Presiden Komisaris Bhina Group Atna Tukiman, Manajer Iklan Heny Susilowati dan Pemr (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

Bukan hanya Atna, keramahan juga ditunjukkan para karyawan rumah sakit itu. Misalnya saat masuk di ruang rawat jalan di lantai II, karyawan yang standby langsung menyapa sambil menempelkan kedua tangan di depan dada. Lengkap dengan senyuman manis. Seperti pramugari ketika menyambut penumpang masuk pesawat.

Dari lobi, rombongan ditunjukkan keunggulan rumah sakit tersebut. Yakni pengiriman obat menggunakan mesin yang dinamakan pneumatic tube system. Obat yang akan dikirim diletakkan di satu wadah. Kemudian dimasukkan ke alat untuk mengirim.

Operator tinggal memencet ke lantai berapa obat itu dikirim. Paket obat langsung disedot melewati pipa menuju lantai tujuan. Kalau sudah, wadah yang tadinya berisi obat bisa kembali lagi ke tempat pengiriman.

Waktu pengirimannya sangat cepat. Tak sampai satu menit. Sangat efisien dibanding pengiriman obat dengan tenaga manusia. Alat tersebut juga bisa dipakai untuk pengiriman sampel bahan pemeriksaan laboratorium.

Rombongan kemudian ditunjukkan beberapa ruang. Seperti ruang dekontaminasi. Ruang itu khusus untuk pembersihan pasien yang terpapar bahan kimia. Sebelum masuk instalasi gawat darurat (IGD), pasien dibersihkan dari bahan kimia di ruang tersebut.

Selanjutnya, rombongan masuk ke ruang CT scan. Alat ini tercanggih di Jawa Tengah (Jateng) dengan 160 slices. Hasil CT scan kemudian masuk ke satu komputer. Dari citra digital yang dihasilkan, dokter bisa memilih. Bagian mana yang tak dipakai, bisa dihapus. Dokter tak menerima hasil CT scan dalam bentuk lembaran. Melainkan via email. Namun, untuk keluarga pasien tetap dicetak.

Ada beberapa ruang operasi. Dibedakan sesuai jenis operasinya. Ringan, sedang, dan berat. Semua peralatan untuk keperluan operasi ditaruh di ruang khusus. Menariknya, ada satu alat canggih satu-satunya di Indonesia. Fungsinya untuk mengeringkan peralatan operasi setelah dicuci.

Sambil berjalan, Atna Tukiman menceritakan alasannya mendirikan rumah sakit. Keinginan mendirikan rumah sakit berawal dari teman-temannya yang sakit lebih sering berobat ke Pati dan Kudus.

Dia pun berbincang dengan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang Ali Sofi’i. Jumlah penduduk Rembang yang mencapai sekitar 600 ribu jiwa tak sebanding dengan kapasitas rumah sakit yang ada.

Dengan populasi penduduk itu, idealnya ada rumah sakit yang menampung 600 pasien. Dihitung dengan rasio ideal 1.000:1. Dari dua rumah sakit di Rembang, totalnya hanya menampung 325 pasien. Baru separo dari kebutuhan. ”Niat kami membuat rumah sakit ini untuk masyarakat,” jelasnya.

Didampingi Komisaris Utama PT Bhina Raharja Husada Supana dan Direktur RS Bhina Bhakti Husada dr. Ella Nurlaila, rombongan kemudian masuk ke ruang rawat inap di semua kelas. Mulai dari kelas VVIP, VIP, 1, 2, dan 3. Paling tinggi tentunya kelas VVIP. Fasilitasnya seperti apartemen. Ada meja makan, sofa berbentuk U, televisi, dan satu tempat tidur pasien.

Di kelas VIP hanya beda sedikit dengan VVIP. Tetap ada sofa, namun hanya satu baris. Juga ada televisi. Semua ruang rawat inap sudah dilengkapi AC. Rumah sakit tersebut bisa menampung 250 pasien.

Total ada tujuh lantai di rumah sakit yang berada di Jalan Rembang-Blora ini. Meski bangunannya modern, penamaan setiap lantai menggunakan tokoh pewayangan. Lantai dasar diberi nama Amarta.

Kemudian lantai I (Yudistira), lantai II (Bima), lantai III (Arjuna), lantai IV (Nakula), lantai V (Sadewa), dan lantai VI (Dworowati). Pada bangunan rumah sakit itu, lantai IV tetap dicantumkan. Itu juga terlihat pada tombol di dalam lift. Padahal, di kebanyakan gedung lantai IV tidak dipakai.

”Dworowati itu kan punya bunga sekar wijaya kusuma. Khasiatnya menyembuhkan orang sakit. Filosofi itu yang kami pakai di lantai VI,” jelas Atna.

(ks/lid/noe/lin/aji/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia