Selasa, 20 Nov 2018
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Beralih Jadi IAIN Kudus, Didorong Berkelas Internasional

Senin, 16 Apr 2018 08:29 | editor : Panji Atmoko

ALIH STATUS: Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI Prof. Dr. M. Kamaruddin Amin, MA (kanan) disambut Ketua STAIN Kudus Dr. Mudzakir, M. Ag sebelum mengisi seminar nasional dan meresmikan gedung perkuliahan terpadu IAIN Kudus Jumat (13/4) lalu.

ALIH STATUS: Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI Prof. Dr. M. Kamaruddin Amin, MA (kanan) disambut Ketua STAIN Kudus Dr. Mudzakir, M. Ag sebelum mengisi seminar nasional dan meresmikan gedung perkuliahan terpadu IAIN Kudus Jumat (13/4) lalu. (DIYAH AYU FITRIYANI/ RADAR KUDUS)

KUDUS – STAIN Kudus dinyatakan telah alih status menjadi IAIN Kudus. Hal tersebut berdasarkan Keppres Nomor 27 Tahun 2018. Keppres tersebut turun pekan lalu.

Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI Prof. Dr. M. Kamaruddin Amin, MA saat mengisi seminar nasional Jumat (13/4) lalu. Selain itu, Prof. Dr. M. Kamaruddin juga meresmikan gedung perkuliahan terpadu yang menjadi gedung Fakultas Tarbiyah. “Tinggal menunggu pelantikan rektor,” ungkapnya.

Dia berharap, adanya transformasi STAIN Kudus menjadi IAIN Kudus ada perubahan yang berarti. Terutama, dalam menjawab tantangan dan menghadapi revolusi industri. Persaingan tidak lagi di tingkat lokal, tetapi global. Sehingga dia mendorong IAIN Kudus ini menjadi PTKIN yang mampu berbicara di tingkat internasional.

Di seminar nasional bertajuk “PTKIN Menjadi Destinasi Pendidikan Islam Dunia: Mengembangkan Berbasis Moderasi Islam Menuju Internasionalisasi Lembaga Pendidikan”, Kamaruddin memaparkan globalisasi tak bisa dihindari. “Maka dari itu internasionalisasi pendidikan di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) sangat diperlukan,” ujarnya.

Ada beberapa hal yang dimiliki untuk menjadi PTKIN berkelas internasional. Salah satunya terkait kurikulum berkelas internasional. Literaturnya juga berstandar internasional. Dengan memiliki sumber bacaan berkelas internasional, akan tak diragukan terkait kualitas yang dihasilkan. ”Belajar di Kudus dengan rasa Harvard atau Al-Azhar. Ketika ketemu dengan alumni manapun bisa percaya diri,” paparnya.

Selain itu, para dosen harus go international. Mereka tak hanya membaca literatur lokal. Dosen diharapkan melakukan kajian yang ekstensif sehingga benar-benar menjadi patokan mahasiswa. “Tidak eksklusif. Tetapi, bisa menjadi anggota atau berkontribusi di komunitas internasional,” ujarnya.

Pihaknya telah memfasilitasi para dosen untuk meraih doktor di luar negeri. Kemenag RI sudah bekerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di Asia, Amerika, dan Eropa. ”Setiap tahunnya disiapkan anggaran sekitar Rp 240 miliar,” katanya.

Selain itu, dia mendorong para dosen IAIN Kudus memiliki karya yang berkualitas. Salah satunya memiliki jurnal internasional. ”Meski sudah punya, jumlahnya perlu ditingkatkan. Jurnal internasional yang dibaca dan menjadi rujukan internasional merupakan cara paling ampuh untuk mengenalkan lembaga pendidikan ke kancah internasional,” jelasnya.

Sedangkan Ketua STAIN Kudus Dr. Mudzakir, M.Ag mengatakan, tahun ajaran mendatang akan menerima sekitar 15 mahasiswa dari luar negeri. ”Sekarang sudah empat mahasiswa dari luar negeri yang mendaftar. Saat ini jumlah mahasiswa mencapai sekitar 12 ribu. Mahasiswa yang akan wisuda periode mendatang sekitar 2 ribu mahasiswa,” terangnya.

Dia menambahkan, gedung perkuliahan terpadu yang diresmikan ini menjadi gedung Fakultas Tarbiyah. Fakultas ini memiliki jumlah prodi terbanyak, sehingga perlu ada penambahan gedung.

”Gedung baru ini memiliki 29 ruang kelas, empat ruang dosen, satu ruang pegawai, satu ruang pimpinan, satu ruang kaprodi, dan satu ruang seminar,” katanya.

Dia juga menyebutkan, STAIN Kudus resmi beralih status menjadi IAIN Kudus. Terkait hal tersebut pihaknya terus melakukan pembenahan terkait kurikulum dan sarpras. Hal itu agar mampu bersaing secara lebih luas. (daf)

(ks/ris/aji/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia