Sabtu, 17 Nov 2018
radarkudus
icon featured
Features
Menelusuri Hotel “Esek-esek” di Kota Kretek (1)

Security Pun Bisa Carikan PSK dengan Tarif Rp 600 Ribu

Selasa, 16 Jan 2018 09:46 | editor : Ali Mustofa

Security Pun Bisa Carikan PSK dengan Tarif Rp 600 Ribu

Kafe dan karaoke memang sudah dilarang di Kudus. Namun hal itu tidak lantas menghentikan prostitusi di Kota Kretek. Hotel pun jadi lahan empuk bagi para penjaja cinta untuk melampiaskan nafsunya. Terlebih ada hotel yang siap mencarikan “si ehem” sesuai selera.

JUMLAH hotel di Kota Kretek sebanyak 25 unit. Bisa dibilang cukup banyak. Terlebih di kota yang notabene terkecil di Jawa Tengah. Dengan jumlah sebanyak itu, tidak sedikit yang disalahgunakan. Termasuk, tidak sedikit pula dimanfaatkan para penjaja cinta.

Jawa Pos Radar Kudus tertarik menelusurinya. Sejumlah hotel didatangi. Tujuannya, ingin mengetahui sejauh mana peran hotel dalam “memudahkan” praktik prostitusi di Kudus.

Kali pertama yang jadi sasaran hotel di kawasan Jalan Lingkar Barat. Di sepanjang jalan itu terdapat beberapa hotel mulai kelas melati hingga berbintang. Tiba di hotel pertama, bangunannya berlantai dua. Begitu masuk hotel, langsung menghampiri meja resepsionis. Wartawan pun bertanya layaknya orang mau menyewa kamar.

Di hotel ini, informasi harga beserta fasilitas hingga larangannya disampaikan jelas di papan pamflet di atas meja resepsionis. Membacanya, orang yang ingin menyewa kamar tanpa dijelaskan sudah bisa mengetahui persyaratan dan ketentuan untuk bisa menginap.

Untuk AC room, harganya Rp 120 ribu sekali nginap. Premium room Rp 90 ribu, dan standar room Rp 70 ribu sekali nginap. Di dalam peraturannya juga jelas disebutkan, anak berseragam dilarang check in. Termasuk dilarang membawa minuman keras dan narkoba. Pengunjung harus menyerahkan KTP atau kartu tanda pengenal asli, bukan fotokopi.

Yang menarik, ada juga tulisan: kami tidak menyediakan panggilan atau fasilitas lain selain fasilitas di atas yang sudah tertera. Inilah yang membuat wartawan tergelitik. Dan benar. Setelah ditanyakan, apakah bisa mencarikan perempuan panggilan untuk diajak ngamar. Sang resepsionis berinisial RI menjawab fasilitas itu tidak ada. Hotel tersebut tidak menyediakan perempuan untuk diajak ML (making love).

Meski begitu, dia membolehkan pasangan bukan suami istri menginap di hotel tersebut. ”Pasangan bukan suami istri menginap tidak apa-apa. Yang penting menunjukkan kartu tanda penduduk (KTP) atau Surat Izin Mengemudi (SIM) asli. Tidak boleh palsu,” ujar resepsionis. Orang yang menginap di tempatnya, lanjutnya, banyak pasangan yang bukan suami istri.

Disinggung razia Satpol PP, dia mengatakan, jarang ada razia di hotelnya. Jika ada razia dari Satpol PP maupun polisi, para penyewa kamar akan diberitahu. ”Razia di hotel ada. Tapi di hotel kami jarang. Kalau nanti ada razia kami beritahu dengan mengetok pintu terlebih dulu, supaya tahu kalau ada razia,” kata lelaki yang masih muda itu.

Selesai di hotel pertama, wartawan koran ini pindah ke hotel lain masih di skeitar jalan tersebut. Hotel kali ini hanya berlantai satu. Keterangan yang disampaikan resepsionis hotelnya tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. ”Kami hanya menyediakan kamar untuk digunakan menginap. Ingin digunakan untuk apa terserah,” terangnya.

Disinggung soal razia Satpol PP, dia menyampaikan, hotel di tempatnya kerap dirazia. Dalam satu bulan bisa dua sampai tiga kali. Meski begitu, jika ada razia penyewa kamar diberitahu sebelumnya.

Dari hotel kedua, Jawa Pos Radar Kudus mencoba mengunjungi hotel berikutnya. Kali ini hotel berlantai dua. Belum sampai masuk ke lobi hotel,sudah dihampiri security hotel berinisial SI.

Di hotel ini sebenarnya hampis sama dengan dua hotel sebelumnya. Ketika ditanya paket fasilitas dengan perempuan yang bisa diajak “ehem”, sang penjaga hotel tersebut bilang tidak ada. Hanya, dia bisa mencarikannya. ”Di Kudus, hotel melati sampai bintang berapa pun tidak ada yang menyediakan perempuan (PSK). Di sini juga tidak ada. Tapi kalau Mas-nya ingin, saya bisa mengusahakannya,” ujarnya.

Dia menjelaskan, jika berminat cukup dengan memberikan uang Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu. Dia bisa menyediakan perempuan untuk melayani ML di hotel satu kali main alias short time. Lebih menggiurkan lagi, perempuan yang dia tawarkan berusia di bawah 24 tahun. Selain itu, juga dijamin perempuan tersebut sehat alias tidak punya penyakit.

Namun, uang itu hanya untuk perempuan panggilan saja. Belum biaya sewa kamar di hotel tersebut. Jika ingin tidur di kamar hotel harus tambah biaya sesuai dengan harga kamar. ”Uang Rp 600 ribu itu belum termasuk kamar. Saya tidak mengambil keuntungan. Untuk (biaya) saya seikhlasnya saja,” ungkapnya.

Dia menceritakan, dulu di jalan lingkar barat banyak sekali tempat hiburan kafe karaoke. Ada sekitar 10 kafe dan karoke yang dia ketahui. Tapi saat sini sudah tidak ada, karena sudah dipangkas Satpol PP Kudus.

(ks/ruq/lil/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia