Sabtu, 20 Apr 2019
radarkudus
icon featured
Features
Menelusuri ODHA di Kota Ukir (2)

Awalnya Diajak Kencan, Akhirnya Ketagihan

11 Januari 2018, 13: 44: 17 WIB | editor : Ali Mustofa

Awalnya Diajak Kencan, Akhirnya Ketagihan

Jawa Pos Radar Kudus mencoba menelisik terjadinya peningkatan drastis temuan dari ODHA dari kalangan homoseksual. Kecenderungan ini semakin mengkhawatirkan. Semestinya, ini menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Jepara.

Mereka memiliki komunitas yang didukung dengan jejaring media sosial untuk interaksi sesama kelompok. Ada komunitas yang anggotanya berinteraksi di dunia maya. Juga sebagian dari mereka tidak masuk dalam komunitas. Yang paling menonjol adalah kelompok ‘Warga’ (Waria dan gay).

Mereka dikenalkan dengan komunitas gay lewat pertemanan di lingkungan kerja, perkenalan teman, dan media sosial. Untuk masuk dalam komunitas mereka sangat sulit. ‘Warga’ cenderung tertutup dengan orang di luar komunitasnya. Hanya beberapa orang yang mau membuka diri dengan orang lain.

Segelintir ODHA dari kalangan homoseksual berhasil ditemui Jawa Pos Radar Kudus. Salah satunya adalah Tegar (bukan nama asli). Usianya sangat muda 23. Tegar mulai menyukai sesama jenis sejak bekerja di Jakarta tiga tahun lalu. Di sana dia diajak seorang temannya untuk mencoba dunia seks sesama jenis.

Awalnya Tegar tidak senang dengan aktivitas seks dengan sesama jenis. Namun karena hampir setiap hari dilakukan, ia mulai nyaman. Risiko terkena HIV/ADIS semakin terbuka ketika dia merubah haluan seksualnya itu dengan terjun di kehidupan malam. Melalui diskotik di ibu kota, dia mulai menerima tawaran dari pelanggan sesama jenis. Selain meraih kepuasan seksual ia juga memperoleh imbalan materi dari pelanggannya. “Semakin lama saya merasakan sakit dalam tubuh saya. Sering lelah, tubuh semakin kurus. Gampang terserang penyakit, mulai diare, flu, dan sering pingsan,” ungkapnya.

Sejak setahun lalu ia putuskan untuk kembali ke Jepara. Sampai pada akhirnya dia jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit. Dokter tidak menemukan diagnosa penyakit yang diderita. Kemudian pihak rumahsakit menyarankan Voluntary Counseling Test (VCT). Hasilnya positif sebagai ODHA. “Setelah dijelaskan dokter, saya menyadari bahwa penularan HIV/AIDS kemungkinan besar melalui hubungan sejenis,” akunya.

Tegar menjalani pengobatan dengan mengonsumsi obat Antiretroviral (Arv). Obat tersebut diperoleh dari komunitas ODHA yang tergabung dalam kelompoknya. Sejak menjalani pengobatan kondisi fisiknya kembali normal.

Selama berhubungan dengan sesama jenis, ia mengaku berhubungan didasari kepuasan seksual dan materi. Tidak hanya dengan satu orang saja, tapi menjalin hubungan dengan laki-laki lain yang menjadi pelanggan. Sementara pelangganya, bermacam-macam kelainan seks yang dimiliki. Ada yang memiliki pasangan istri namun ‘jajan’ dengan sesama. Ada juga yang belum memiliki istri dan sering menyewa jasa pemuas seks sesama jenis.

Sementara itu, Jodi (nama samaran), 21, mulai hidup di lingkaran homoseksual sejak masih duduk di Kelas XI SMA. Ia kenal dengan seorang laki-laki sebagai temannya. Laki-laki tersebut seorang pengusaha yang memiliki usia lebih tua darinya. Awalnya menjalin hubungan pertemanan biasa. Suatu ketika ia diberikan beberapa fasilitas seperti telepon genggam dan uang saku. Ternyata ada maksud tersembunyi dibalik pemberian itu. “Saya mulai diajak berkencan. Tapi saya tidak tahu kalau itu ternyata mau diajak berhubungan sesama jenis. Padahal dia sudah punya istri dan punya anak,” imbuhnya.

Jodi sempat menolak berhubungan. Karena desakan dengan alasan beberapa fasilitas yang pernah diberi, akhirnya dia bersedia. Hubungan terus berlanjut dengan imbalan materi kepadanya. Ternyata dia ketagihan dengan hubungan sesama jenis. Tanpa sepengetahuan teman kencannya itu, dia menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Tidak hanya satu namun beberapa laki-laki. Semakin banyak teman kencan sesama jenisnya, dia mulai berkumpul dengan komunitas LSL. Dalam sebuah pertemuan, diadakan tes VCT, ia ikut menjalani tes tersebut. Hasilnya ternyata positif ODHA.

“Saya akui masih suka dengan sesama jenis. Pengobatan ini untuk mempertahankan hidup saya agar tidak terserang penyakit. Secara bertahap saya coba lepas dari aktivitas seks sesama jenis,” kata laki-laki yang aktif sebagai mahasiswa ini.

Cerita lain juga disampaikan Rafi (nama samaran), 27. Rafi merupakan pengusaha mebel di Bumi Kartini. Dia mengaku menjadi penyuka sesama jenis setelah menikah. Selama menikah ia mengaku belum merasakan kepuasan hubungan seksual. Kemudian ia mulai mencoba menghubungi salah satu temannya yang aktif di komunitas LSL. Setelah dikenalkan dengan beberapa pemuda, ia mulai menjalin hubungan dengan mereka.

Rafi mengungkapkan dirinya sering berganti-ganti pasangan. Karena hanya ingin merasakan sensasi hubungan seksual dengan sesama jenis. Suatu ketika ia mengalami sakit yang tidak diketahui jenis penyakitnya. Melalui tes juga ia mengetahui kalau termasuk sebagai ODHA. “Sejak saat itu saya mulai menjalani pengobatan. Saya tidak mau keluarga saya tertular. Sampai saat ini mereka belum mengetahui bahwa saya itu ODHA. Yang penting ada upaya untuk tidak menyebarkan virus,” ujarnya.

(ks/war/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia