Minggu, 24 Mar 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Selamat Datang Tahun Politik 2018

01 Januari 2018, 18: 01: 32 WIB | editor : Panji Atmoko

Baehaqi

Baehaqi (dok.)

Cuitan: Baehaqi

SUDAH beberapa hari belakangan saya galau luar biasa. Hingga menjelang pergantian tahun tadi malam, rasanya malah meningkat. Tantangan yang dilontarkan seorang karyawan terus menghantui. Kembang api yang sesekali memancar ke langit di luar rumah tak bisa menutupi. Cahayanya menembus hingga halaman belakang.

Ketika merenung di tengah ingar-bingar siaran televisi, saya teringat seorang bupati. Dia cantik. Dandanannya modis. Jauh berbeda dengan ketika dia masih menjadi ketua dewan. Namanya Sri Sumarni. Bupati Grobogan. ‘’Biarpun diserang, saya jalan saja,’’  ujarnya menginspirasi. Kata-kata itu dilontarkan dalam obrolan di ruang kerjanya belum lama ini. Bagi Bu Sri, rakyat adalah anak. Bagi saya, karyawan juga anak. Tak bisa dimusuhi.

Bupati mesti banyak tantangan. Tidak seluruh rakyatnya sepakat dengan kebijakan yang diterapkan. Apalagi mereka yang kala pencoblosan memilih lawan.  Saya bayangkan betapa pusingnya bupati yang memimpin jutaan orang. Isi otaknya berbeda. Pengalamannya beragam. Keinginannya macam-macam. Tentu ada yang suka dan banyak juga yang mencela.

Saya hanya pemimpin sebuah perusahaan. Kadang-kadang pusingnya tujuh keliling. Menjadi sulit membayangkan apa yang terjadi pada pimpinan daerah. Bupati Kudus Musthofa, misalnya, bukan hanya menghadapi rakyatnya yang hampir sejuta. Dia harus merebut hati bakal calon rakyatnya yang lebih menantang (baca lebih banyak).

Musthofa yang kini masih menjabat bupati Kudus kali kedua memastikan diri dalam pemilihan gubernur Jateng 2018. Dia akan bersaing dengan Ganjar Pranowo, gubernur sekarang, dan mantan Menteri ESDM Sudirman Said.

Kang Mus -sapaan Musthofa- juga harus memikirkan penggantinya yang akan menduduki kursi di pendapa. Dia sudah menyiapkan Masan (ketua DPRD Kudus sekarang) dan Noor Yasin (sekda Kudus sekarang). Calon ini akan bersaing dengan Akhwan yang akan maju independen. Juga beberapa bakal calon lain. Misalnya M. Tamzil, mantan bupati Kudus sebelum Musthofa dan Sri Hartini, kalau mereka mendapat rekomendasi partai.

Saya tidak akan mendukung siapa-siapa. Karena, saya pemimpin media yang harus independen. Tapi kepala saya menjadi nyut-nyut ketika membayangkan situasi 2018. Persaingan bakal ketat. Para pendukungnya tak mau ketinggalan. Aparat disebar di mana-mana untuk meningkatkan keamanan. Banyak orang menyebut tahun gonjang-ganjing. Tahun politik. Biasanya berpengaruh pada bisnis.

Di 2018 ini, akan dilaksanakan pemilihan gubernur dan bupati secara serentak di seluruh Indonesia. Memang tidak seluruh daerah akan ada pilkada. Kebetulan masa jabatan gubernur Jawa Tengah dan bupati Kudus akan berakhir hampir bersamaan. Maka seluruh rakyat Jateng termasuk Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan ikut pesta politik. Kudus menjadi lebih hiruk-pikuk.

Daripada terus terbayang tahun yang biasanya tidak menentu, saya alihkan perhatian ke televisi yang semakin meriah. Ditayangkan, panggung hiburan ada di mana-mana. Jalanan di pusat-pusat kota sudah mulai macet. Kembang api semakin sering memecah kegelapan malam. Sejenak saya larut. Sepiring agar-agar yang saya buat sendiri tadi siang telah habis.

Begitu satu per satu tiga anak saya yang semua laki-laki meninggalkan rumah, saya yang jomblo pun tak kerasan. Dalam waktu singkat sudah berada di pusaran manusia yang hiruk-pikuk menyambut tahun baru. Kafe Starbuck di Graha Pena Surabaya,  kantor pusat Jawa Pos, penuh. Demikian juga Dunkin’ Donut dan Pizza Hut di lingkungan yang sama. Pengunjung KFC di samping kiri Graha Pena meluber sampai halaman. Tak ada kursi tersisa.

Di tengah obrolan, saya teringat detik-detik menjelang tutup kantor Sabtu lalu. Itulah hari terakhir kerja bagian administrasi. Manajer keuangan Etty Muyassaroh melaporkan ada pencapaian yang kurang Rp 35 juta. Gila. Hanya kurang Rp 35 juta dari hitungan miliar. Sejenak kemudian perempuan cantik yang hamil tujuh bulan itu menghibur. Ada sebagian yang masih diusahakan.

Pada kondisi yang sangat kritis itu, kami harus berpikir bagaimana berusaha secepat-cepatnya dalam tempo sesingkat-singkatnya. Pukul 17.00 target tinggal Rp 9 juta. Pintu ruangan harus dikunci. Pikiran saya agak tenang. Hari Minggu (kemarin) di hari terakhir 2017 masih ada karyawan di lapangan. Hasilnya baru bisa dimasukkan audit Selasa besok.

Penyanggaan tangan saya ke dagu menjadi lebih ringan ketika membayangkan perusahaan-perusahaan lain. Kayaknya, kondisinya sama. Ada juga yang tidak mencapai target. Para pemimpinnya pasti lebih erat memegang kepala. Ah, biarlah. Toh banyak juga perusahaan yang sukses.

Kunci kesuksesan itu sudah ada. Kerja, kerja, kerja. Memang harus lebih keras. Dan, tentu harus mau berubah ke arah yang lebih positif. Move on lebih cepat. Muhasabah (introspeksi) menjadi sangat penting. Ini sekaligus menjadi kunci semua usaha.

Itu lebih mudah bila didukung situasi kondusif. Kondisi itu tercipta manakala para calon gubernur dan bupati serta para pendukungnya bersaing secara fair. Tidak menjadikan rival sebagai lawan. Apalagi musuh. Anggaplah satu musuh terlalu banyak dan seribu teman terlalu sedikit. Saya pun telah memaafkan orang yang merepotkan dan tetap menjadikannya sebagai teman yang menyenangkan.

Mudah-mudahan tahun ini lebih sukses lagi. Selamat Tahun Baru 2018. (hq@jawapos.co.id)

(ks/lin/aji/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia