Minggu, 24 Feb 2019
radarkudus
icon featured
Features
Raih Medali Perak di Ajang OPSI Nasional 2017

Olah Limbah Styrofoam dan Kulit Jeruk Jadi Bahan Bakar Alternatif

31 Oktober 2017, 07: 06: 29 WIB | editor : Ali Mustofa

KREATIF: Dua siswi SMAN 1 Kudus, Yemima M.N dan Yashinta A.A berhasil meraih Juara II OPSI Nasional 2017.

KREATIF: Dua siswi SMAN 1 Kudus, Yemima M.N dan Yashinta A.A berhasil meraih Juara II OPSI Nasional 2017. (UMMI NAILA RIZIQYYA/RADAR KUDUS)

Yemima M.N dan Yashinta A.A berhasil Juara II Lomba OPSI (Olimpiade Penelitian Sains Indonesia) di Malang, 09-14 Oktober lalu. Keduanya menang berkat ciptaannya mengolah limbah styrofoamdan kulit jeruk menjadi bahan bakar pengganti bensin.

 UMMI NAILA RIZIQYYA, Kudus

 DUA medali perak terkalung di leher kedua siswi ini. Di medali tersebut terdapat tulisan OPSI. Itu merupakan salah satu bentuk apresiasi bagi pemenang lomba yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.

Yemima Maria Natania dan Yashinta Ayu Ardhyani, dua siswi dari SMAN 1 Kudus berhasil membawa pulang medali itu. Mereka meraih juara II Olimpiade Penelitian Sains Indonesia (OPSI) 2017 tingkat nasional di Kota Malang, Jawa Timur pada 09-14 Oktober 2017.

Kedua siswi itu berhasil membuat bahan bakar alternatif pengganti bensin. Yaitu dari limbah styrofoam dan kulit jeruk. Sangat ekonomis. Bahan mudah didapatkan dan tidak mahal.

Yemima mengatakan, ide pemanfaatan pengolahan limbah berasal dari banyaknya sampah styrofoam di sekolahnya. ”Karena di kantin banyak styrofoam yang terbuang, akhirnya kenapa tidak dimanfaatkan saja untuk dijadikan penelitian,” ucap siswi kelas XII MIPA 1 ini.

Mereka pun membuat penelitian dari styrofoam sejak satu tahun lalu. Lewat beberapa kali penelitian, akhirnya terciptalah bahan bakar pengganti bensin. ”Limbah syrofoam dilarutkan dnegan limbah kulit jeruk. Hasilnya bisa menjadi bahan bakar pengganti bensin,” ujar Yashinta, adik tingkat Yemima, kelas XI MIPA 2 ini.

Dibantu guru pembimbingnya Susminingsih, mereka melakukan tiga kali percobaan. Pertama, menggunakan destilasi kering, yaitu suatu metode pemisahan zat-zat kimia. Dalam proses distilasi kering ini, bahan padat dipanaskan sehingga menghasilkan produk-produk berupa cairan atau gas (yang dapat berkondensasi menjadi padatan). Percobaan kedua, yaitu dengan mencampurkan larutan minyak tanah. Hingga akhirnya pada percobaan terakhir berhasil dengan mencampur larutan dari kulit jeruk.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, mereka mencampurkan 100 gram larutan Styrofoam dengan 200 gram larutan kulit jeruk. Dari pencampuran itu, menghasilkan 66,67 mililiter minyak bahan bakar. Untuk bukti keberhasilan, bahan tersebut juga sudah diujicobakan pada kendaraan motor dalam skala kecil.

”Berkat ketekunan dan semangatnya dalam penelitian, mereka masuk dalam 90 besar dari 3.000 peserta tingkat nasional. Yemima dan Yashinta ikut dalam seleksi dan presentasi di bidang sains dan teknologi dengan judul penelitian Bahstyline (limbah styrofoam) sebagai bahan bakar alternatif pengganti bensin,” ucap Susminingsih, guru pembimbing kedua siswi tersebut.

            Para finalis OPSI 2017 dinilai dalam dua tahap. Yakni pameran penelitian dan presentasi penelitian. Dalam pameran penelitian, mereka diberikan satu gerai atau stan untuk menampilkan poster yang memuat informasi tentang penelitian mereka. Para peneliti muda itu juga dapat meletakkan barang-barang atau benda-benda serta alat demo yang dapat mendukung presentasi mereka saat juri mengunjungi stan untuk melakukan penilaian.

Pameran penelitian berlangsung satu hari, pada Rabu (11/10), di Dome Universitas Muhammadiyah Malang. Esok harinya, pada Kamis (12/10), para finalis OPSI 2017 mempresentasikan penelitian mereka di hadapan juri dalam bentuk forum sidang. Di tahap ini, dibutuhkan kemampuan berkomunikasi dan kesiapan mental untuk dapat memberikan penjelasan dan menjawab pertanyaan juri.

Karena sudah lama menekuni penelitian di ekstrakurikuler KIR (karya ilmiah remaja), kedua siswi alumni SMP 1 Kudus ini sudah terbiasa saat melakukan presentasi dan tanya jawab. Jadi saat presentasi lomba OPSI kemarin, mereka tidak terlalu tegang.

”Sejak SMP saya memang suka meneliti hal baru. Karena sering diajak guru untuk bereksperimen, jadi saya sudah terbiasa dalam presentasi lomba,” ujar Yashinta, dara kelahiran Kudus, 12 November 2000 yang pernah juara III lomba PKM (Program Kreativitas Kahasiswa) tingkat nasional tahun 2016 di Unsoed (Universitas Soedirman).

Selain itu, prestasi membanggakan juga didapat oleh Yemima, dara kelahiran Kudus, 5 Desember 2000. Dia pernah menjadi finalis LPB (Lomba Peneliti Belia) Jawa Tengah 2014,  special award LPB Jawa Tengah 2016, honorable mention award PKM Unsoed 2017, dan finalis ISPO (Indonesian Science Project Olympiad) tahun 2017.

Berkat kemenangannya itu, mereka berhak mendapat uang pembinaan dengan seluruhnya total hampir Rp 20 juta dari Kemendikbud.

Sudah tak heran lagi jika siswa siswi SMAN 1 Kudus sering memenangkan berbagai kompetisi. Terutama di bidang penelitian. ”Kami selalu menerapkan dua cara dalam penelitian anak. Pertama metodologi eksperimen berbahan resep. Jadi, anak boleh mengacu pada bahan dan cara penelitian yang ada sebelumnya. Kedua yaitu menggunakan eksperimen terbuka. Siswa boleh mencari inovasi bahan baru secara mandiri. Lalu dikuatkan dengan landasan teori, dan diujicobakan lewat praktikum-praktikum yang dilakukan,” terang Susminingsih. 

(ks/lil/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia