Selasa, 20 Nov 2018
radarkudus
icon featured
Kudus

Hanya Sekali Dapat Bantuan Susu, Berobat Tunggu Ada Uang

Kamis, 10 Aug 2017 10:25 | editor : Ali Mustofa

BUTUH BANTUAN: Maryati menunggui putranya Muhammad Faril Khasan yang menderita hidrosepalus kemarin.

BUTUH BANTUAN: Maryati menunggui putranya Muhammad Faril Khasan yang menderita hidrosepalus kemarin. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

 KUDUS – Keceriaan Muhammad Faril Khasan tidak seperti anak pada umumnya. Penderita hidrosepalus ini, menghibur diri dengan musik. Hanya itu yang bisa membuatnya merasa senang dan serasa ada teman di sekililingnya.

Faril telah mengidap penyakit itu sejak lahir. Saat ini, dia berusia enam tahun. Sehari-harinya, dia hanya berbaring di atas kereta boks berbahan besi yang didesain khusus untuknya. Dia sembari mendengarkan musik dari handphone ibunya.

Kondisi kepala makin membesar, dia tetap terlihat riang. Sesekali tertawa meski tidak bisa berbicara. Dia hanya bisa mengucapkan ”apa”. Giginya yang tidak tumbuh sempurna membuatnya kesulitan menguyah. Jadi, tiap hari dia makan bubur dan pisang serta minum susu.

Namun, berat badan Faril menunjukkan sehat. Bahkan terlihat gemuk. Dia merasa senang saat ada orang yang mengajaknya ngobrol, meski hanya merespon dengan gerak tangan dengan jemari mengepal.

Dia anak kedua dari pasangan Fahrudin, 42, dan Maryati, 37, warga di RT 5/RW 2, Desa Singocandi, Kota, Kudus. Ayah Faril bekerja sebagai kenek bangunan. Sedangkan ibunya jualan di rumah.

Maryati dengan penuh kesabaran merawat Faril. Apalagi pada saat penyakitnya kumat. Faril bisa semalam suntuk nangis dan minta dipangku. Namun, rasa letih yang dirasakan Maryati tidak diperlihatkan ke anaknya tersebut.

”Faril diketahui tidak normal saat usia kandungan delapan bulan dari bidan. Kemudian dirujuk ke dokter spesialis kandungan Rumah Sakit Aisyiyah. Ternyata menderita hidrosepalus. Karena keterbatasan alat medis dirujuk ke RS Mardirahayu. Kemudian dirujuk lagi ke RS Elisabeth Semarang. Proses melahirkan dengan secara caesar,” terangnya.

Dia mengaku, selama proses melahirkan hingga operasi sampai kontrol menggunakan biaya sendiri. Bahkan, hingga sekarang masih sama. Ini karena, keluarga ini tak terdaftar sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)-KIS maupun Jamkesda.

Waktu awal-awal, cukup berat karena harus kontrol satu minggu sekali. Setiap berobat biaya yang dikeluarkan mencapai Rp 1,5 juta. Setelah usia Faril menginjak satu tahun hingga sekarang berobat kalau ada uang.

”Saat kumat kejang-kejang dan pingsan dibacakan doa-doa oleh ayahnya. Kemudian bisa normal lagi. Sudah terbiasa, jadi saya tidak kaget kalau terjadi seperti itu. Sebenarnya ingin berobat rutin tapi biayanya terbatas,” ungkapnya.

Maryati bercerita, putranya pernah dirawat di RSUD dr Loekmono Hadi selama 10 hari di ruang kelas III. Tapi tidak tahu kenapa surat pernyataan tidak mampu dari desa tidak bisa untuk mendapatkan biaya gratis. Jadi, waktu itu akhirnya membayar sendiri.

Dia mengaku, berkali-kali akan menghadap ke Bupati Kudus Musthofa. Baik di pendapa maupun di rumah bupati. Tapi sering tidak ketemu. Hanya satu kali bisa bertemu bupati, namun belum ada bantuan.

”Saat Faril usia delapan bulan, pernah ada bantuan susu dua dos ukuran 400 ml. Entah itu dari desa atau petugas sosial saya kurang paham. Tapi hanya sekali itu,” terangnya.

Saat ini, susunya diganti susu kaleng karena Faril semakin banyak minum. Sehari bisa menghabiskan satu kaleng. ”Kalau susu kaleng kan lebih irit. Karena saya juga masih membiayai sekolah anak pertama yang baru kelas IX MTs,” terangnya.

(ks/lin/san/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia