Setiap Hari Latihan 7,5 Jam, Sempat Masuk Seleksi Paskibra di Jawa Tengah

Ghaniyya Candra Nada terpilih sebagai pembawa baki bendera dalam upacara HUT RI di Jepara pada 17 Agustus lalu. Dari seleksi yang dilaksanakan kepada ratusan siswa oleh Purna Paskibra Indonesia, dia dinyatakan lolos. Paling membanggakan, dia terpilih menjadi pembawa baki bendera dalam upacara HUT RI.

 

FEMI NOVIYANTI, Batealit

BERPERAWAKAN tinggi dengan berat proporsional, membuat Ghaniyya Candra Nada terlihat cocok mengemban tugas sebagai pengibar bendera di upacara peringatan hari kemerdekaan ke-71 RI, baru-baru ini. Saat berada dalam barisan, langkahnya pun mantap.

Di upacara Hari Kemerdekaan RI belum lama ini, gadis kelahiran 7 Agustus 2000 ini, berhasil lolos seleksi dan bergabung dengan 29 anggota pasukan pengibar bendera (Paskibra) Jepara. Pada tugas itu, dia berposisi di barisan depan sebagai pembawa baki bendera yang hendak dikibarkan.
Perjuangan putri pasangan Harianto dan Arri Miosa untuk sampai ke posisi tersebut tentu bukanlah hal mudah. Dia harus melewati berbagai seleksi sampai akhirnya dinyatakan lolos dan berhasil masuk tim Paskibra Kabupaten Jepara.
Anak kedua dari tiga bersaudara itu menceritakan, awalnya dia mengikuti seleksi paskibra di sekolahnya. Di sekolah, dia pun masuk sebagai pasukan khusus. Saat mewakili sekolah, dia dan tim pernah menjadi juara 1 LBB tingkat kabupaten dan menjadi juara 3 LBB tingkat Karesidenan Pati. ”Untuk seleksi paskibra kabupaten sendiri, awalnya ada seleksi di sekolah-sekolah. Saya salah satu yang terpilih,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.
Setelahnya, dia mengikuti seleksi lanjutan bersaing dengan para peserta dari puluhan sekolah se-Jepara. Tim penyeleksinya dari Purna Paskibra Indonesia. ”Saya lolos dan masuk 30 peserta yang diambil untuk paskibra Jepara,” terangnya.
Tesnya pun cukup ketat. Mulai dari tes parade yang terdiri dari pengukuran tinggi badan dan berat badan, tes kesehatan, tes kecakapan, keterampilan baris berbaris, dan tes wawancara.
Dara yang beralamat di RT 1/RW 2, Desa Mindahan, Batealit ini, juga patut berbangga. Sebab, dari 30 anggota paskibra Jepara dia terpilih lagi untuk maju seleksi tingkat Provinsi Jawa Tengah. ”Dari 30 orang, diambil 2 untuk maju ke seleksi provinsi. Satu laki-laki dan satu perempuan. Untuk perempuan, saya yang terpilih,” ujarnya.
Dia mengikuti seleksi paskibra di tingkat Jawa Tengah dan bersaing dengan para peserta dari puluhan kabupaten/kota di Jawa Tengah. ”Di tingkat Jawa Tengah, saya belum berhasil lolos. Namun saya senang sudah berusaha menampilkan kemampuan terbaik. Mungkin belum rezeki di provinsi,” tuturnya.
Siswi SMA N 1 Jepara itu melanjutkan, saat mempersiapkan diri menjadi paskibra hari kemerdekaan dia dan anggota lainnya berlatih intensif selama tiga pekan. Latihannya mulai pukul 06.30 sampai 14.00 WIB. ”Saat latihan pernah jatuh bangun juga.  Capek itu pasti, namun sebagaimana kata pelatih kalau belum capek berarti belum bersungguh-sungguh,” urainya.
Perempuan yang akrab disapa Nada ini pun mengaku senang saat bisa menuntaskan tugasnya dengan baik. ”Ada kebanggaan tersendiri. Ini berkat semua pihak, pelatih serta semua anggota yang kompak dan bisa bekerja sama dengan baik. Ini menjadi pengalaman luar biasa dalam hidup saya,” katanya.
Sementara itu disinggung aktivitas modelingnya saat ini, Nada mengaku, masih aktif mengikuti berbagai kegiatan modeling. ”Dua-duanya yakni paskibra dan modeling sudah menjadi hal penting bagi saya. Saya juga nyaman menjalani keduanya,” akunya.
Beberapa prestasi modelingnya di antaranya, Juara The Best Costum D'Icon 2014, Juara 2 Batik dan Tenun Troso 2014 dan 2015, Juara 1 Jepara Carnival 2016. ”Saya juga aktif di olahraga basket. Bersama tim pernah menjadi juara 2 basket se Kabupaten Jepara,” pungkasnya. (*/zen)

 

 


BERITA LAINNYA
Tulis Komentar